Konblok vs Banjir

Conblock atau konblok adalah sejenis bata yg terbuat dari semen. Benda ini didisain khusus untuk jalan perumahan atau lapangan, plaza, mall, pedestarian-area pejalan kaki. Sepintas, fungsinya memang untuk itu, tatapi bila kita cari diberbagai jurnal ilmiah para penata lingkungan, arsitek dan lain2, konblok digunakan supaya area resapan air tidak hilang.

Kini, perumahan2 sudah jarang yg menggunakan konblok sebagai jalan. Pengerjaanya lama, mahal, dan lain2 dibanding cor permanen dengan beton atau aspal.

Saya belum sempat mencari UU atau Regulasi pemerintah tentang ini sehingga para developer abai, kalau ada rekan nitizen yg bisa mensharingkan, monggo. Tetapi yang jelas adalah pengembang perumahan lama masih menggunakan konblok di setiap jalannya sementara pengembang sekarang menggunakan beton/cor. Setali tiga uang, karena tidak paham atau tak mau repot, masyarakat, baik lewat dana desa, keluarahan, bahkan swadaya mengganti konblok dengan beton/cor.

Jika kita hitung luas jalan perumahan maka seluas itulah area resapan airnya dengan asumsi menggunakan konblok. Nyatanya, sudah jalananya di cor, gorong2 atau selokan perumahan pun semakin sempit. Kadang tertutup. Alhasil, setiap musim penghujan tiba, kita diperhadapkan pada masalah banjir ini, seolah tak berkesudahan, tak ada solusi.

Setiap tahun pemukiman bertambah dan berbanding terbalik dengan area resapan air, semakin berkurang. Lalu diperparah dengan ulah para pengembang yg menghilangkan konblok di sepanjang jalan perumahan, lengkaplah sudah. Hujan, iklim kita salahkan, sementara hal-hal sederhana kita abaikan.

Banjir oh banjir

Tentang 14 Hari Yang Melelahkan

Banyak yg bertanya darimana awalnya saya dan istri terpapar covid?. Jujur, saya tak pernah terpikirkan utk menelusuri kebelakang tentang dari mana saya dan istri terpapar?, mengapa? Karena setiap hari jumlah yg terpapar ini semakin banyak, artinya semakin besar peluang dimanapun bisa terpapar. Pada prinsipnya saya tak ambil pusing dengan itu. Lebih baik saya konsen utk memulihkan keadaan saya dan istri. 16hari lalu saya melihat dan mendengar batuknya istri saya sudah berbeda dari biasanya, maka saya sarankan utk swap, rupanya, setali tiga uang, kantornya mengadakan swap massal karyawan. Jadilah dia Jumat dua minggu lalu swap di salah satu klinik yg direkomendasi kantornya di Cikarang baru. Dan sorenya, hasilnya menyatakan positif.Lalu, saya sendiri langsung menyiapkan mental bahwa saya juga terpapar. Jumat itu kan hari swap, hari memastikan, artinya bisa saja istri saya sudah dihari sebelumnya yg kebetulan sudah membatuk itu terpapar. Pasti saya juga terpapar dong.

Lalu saya melakukan rapid test di hari dan klinik yg sama, hasilnya non reaktif. Bagi saya itu bukan hasil test yg valid. Dua hari sebelumnya perasaan saya sudah tak enak, dan karena saya hafal betul penyakit yg saya derita maka saya menyimpulkan maag saya kambuh.Singkat cerita, atas saran tim gugus covid kelurahan dan desa saya pun diswab di puskesmas kelurahan yg pada akhirnya memang ketahuan hasilnya postif alias sudah terpapar.

Minggu pertama adalah hari yg menyakitkan. Jujurnya, saya hanya mengalami maag ku kambuh, sementar istri batuk kecil. Lalu kami pun pisah ranjang. Saya di kamar depan, dia di kamar belakang kwkwwkwkwk. Aneh ya, sama2 terpapar ngapain harus pisah ranjang ya.

Banyak sekali ciri2 terpapar covid ini, asal kita peduli pada diri sendiri maka kita bs paham bahwa kita sudah terpapar. Setiap orang berbeda. Maag yg sekian lama tak pernah kambuh kok tiba2 menyerang dengan ganas?, disitu saya curiga.

Nah, makan adalah sesuatu yg sangat mengerikan. Aroma makanan hilan. Dalam minggu pertama, indra penciuman berkurang drastis. Jangankan aroma nasi atau lauk, aroma minyak kayu putih pun memudar. Awalnya saya pikir minyak kayu putih itu masuk angin sehingga aromanya hilang hahahahha. Minyak angin masuk angin pulak, pikirku. Malam2 saya ciun kok minyak ini seperti masuk angin ya hahahhaha

Maupih

Makan pun susah. Maag pasti kumat kalau tdk makan, jadi saya paksakan saja makannya.

Covid itu pintar, dia menyerang bagian tubuh yg bermasalah. Saya melawan. Ku paksakan makan meski tak memperdulikan rasa yg hambar. Nasi plus air putih tok. Makan sesuap, minum sedikit. Asal maag ga kambuh saja.Jika badan ingin rebahan saja, maka saya paksa diri saya beraktifitas. Berkebun, mengurus kolam, menemani Maxcy bermain. Eh, Maccy tak mandi 2 minggu ga terasa bau loh hahaha.

Apotik K24 dan Ito-lae pemiliknya mensupport terus. Mereka mengirimkan obat2an, antibiotik, antivirus, obat maag, obat mual, multivitamin bahkan lae saya mendrop kelapa hijau. Kelapa hijau bagus buat membunuh bakteri2 dalam tubuh, sila googling kalau ga percaya. Kami beruntung sekali memang.

Sehari setalah hasil test istri keluar, saya informasikan ke grup WA RT bahwa kami berdua terpapar dan harus isolasi mandiri di rumah. Respon yg luar biasa dari seluruh tetangga se RT, mereka mensupport kami sehingga tak pernah seharipun kami kekurangan makanan. Mulai dari sarapan hingga makan malam, buah, vitamin, minuman ringan silih berganti dikirimkan ke rumah. Ibu2 RT menyarankan utk meletakkan satu kursi di depan rumah sehingga mereka bisa letakkan makanan itu di sana. Saban hari mereka melakukan itu selama kami isolasi. Saya ga ngerti gimana cara membalas kebaikan2 itu, bah. Asli gue bingung. Tetangga samping rumahpun sama, bergantian membawakan makanan. Bahkan sabun pun mereka kirimkan. Demikian juga rekan2 alumni yg rela berjauh2 datang mengantar berbagai macam multi vitamin.

Selama isolasi, kami hanya mengkonsumsi antibiotik, antivirus, imunboost dan multivitamin. Tidak lebih.

Kurangi membuka WA grup sebab banyak sekali berita2 yg tersebar di sana yg tidak bisa kita kontrol yg menambah beban pikiran sehingga imun kita lemah, jadi lebih baik di kurangi saja bermedia sosial, WA grup, nonton TV (walau memang ga pernah lagi), baca portal berita, dan lain2 yg menyebabkan pikiran kita jadi mumet. Saya lebih banyak menonton yutube, film barat, lawakan haji bolot, sule, standup comedy, teater cak lontong dan tontonan lain yg membuat suasana hati gembira. Setiap hari saya bermain keyboard dan bernyanyi meski suara serak.

Bagi saya, menginformasikan kondisi kita yg terpapar adalah penting. Jangan malu. Ini bukan aib. Justru dengan saya memberitahu tetangga, kawan2 dll mereka akan mendukung kita spy cpt sembuh, berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Saya kadang heran jika ada seseorang terpapar lalu dirahasiakan. Kenapa ya? Kedua, saya rajin menghubungi kawan2 penyintas covid, berbagi pengalaman dan saling menyemangati. Ada semangat baru yg timbul dalam hati ketika kawan2 penyintas yg lain bilang bahwa dia semakin sehat. Percayalah, tak ada satu penyintaspun yg melemahkan semangatmu.
Ai holan na mangan do maol mulanai, kata kawan
Tong do boi au karejo sian jabu, kata kawan lain
Gogo ho mangan, malum doi, kata yg lain lagi

.Dukungan moral dan doa kawan2 media sosial, tetangga se RT di Blok G Taman Sentosa Cikarang, amang pandita (dua keluarga) yg menyempatkan menjenguk kami meski dari jauh, rekan2 alumni, keluarga dekat, ortu, anggi&anak, lae-ito dan bere, family, sahabàt yg tdk bs saya sebutkan satupersatu menjadi sumber semangat bagi kami.

Jika kalian membaca tulisan yg mengatakan berbagai macam obat2 yg harus dikonsumsi kalau terpapar covid, menurut saya itu semua tergantung penyakit bawaannya. Jika kalian batuk, maka belilah obat batuk. Jika maag, maka siapkan obat maag dll. Jika susah bernafas, maka minyak kayu putih bagus utk melegakan, sekali lagi melegakan. Jika sesak dan muntah2 maka ke rumah sakitlah spy alat kesehatan bs membantumu. Jika terpapar, siapkan juga obat pereda rasa sakit (apa yg biasa dikonsumsi?), obat penurun panas, obat anti mual dll yg semuanya bersifat jaga2 saja. Obat mual dimakan saat mual, obat penurun panas digunakan jika demam saja, demikian obat lainnya.Saya dan istri di hari pertama malah mengkonsumsi Black Label12.

Alkohol, coy. Kerongkongan atau tenggorokan gatal langsung lega setelah menenggak alkohol 40persen itu, bahkan tidur pun nyenyak hahahaha.

Serius.

Seloki atau 3 sendok makan kami minum setiap malam. Hahahaha

Satu yg lucu, saya mengorder Oxymeter lewat online. Sudah 2 mgg nih, belum nyampe juga. Mulai dari awal terpapar hingga kini, barang itu ga ada. Gunanya alat ini adalah utk mengukur kadar oksigen dalam darah.

Bahwa yg benar adalah seperti imbauan pemerintah 3 M, itu tok. Kalau sudah terpapar, maka kembali ke personalnya lagi. Jika kalian percaya bahwa ada obat herbal dengan ramuan2 untuk covid ini, terserah kalian. Sebab banyak sekali tulisan2 di WAG, medsos tentang obat2 covid ini. Setiap orang tak sama gejalanya. Kenali gejala anda, itu penting. Saya sendiri sudah melihat bahwa hanya Imunlah yg bs melawannya. Saya minum madu, minum ramuan jahe dan kunyit, dll supaya tenggorokan saya reda. Kunyit bagus untuk meredakan asam lambung, maag. Anti oksidan dalam jahe dan madu bagus utk tubuh. Jika imun kita kuat maka virus tak berarti, maka intinya bagaimana meningkatkan imun?……

Tetaplah semangat. Jaga kesehatan selagi sehat. Konsumsi multivitamin. Jangan saling menyalahkan sesama serumah jika ada yg terpapar, gak usah penasaran darimana asalnya. Fokuslah pada pemulihan.

Covid-19 Survivor

Kesaksian : Rose Lumban Toruan
https://www.facebook.com/rose.lumbantoruan

Sejak pandemi, dia sudah beberapa kali rapid test dan swab antigen, demi berjaga-jaga, sebagai bagian dari kesadaran sosial, agar tak menjadi carrier virus yang sedang mewabah itu. Hasilnya, selalu non reaktif dan negatif.

Lalu, pertengahan Desember, dia mengeluh badan dan tulangnya pegal dan linu. Dia mengira karena masuk angin, sebab AC di kamar kami selalu dingin (agar siboru Sere tak keringatan saat tidur), sementara dia paling gak suka berselimut. Itulah sebabnya, saat terbangun atau mau ke toilet, saya selalu menyelimutinya.

Di saat dia merasa kurang enak badan, dia masih pergi ke Bandung untuk melakukan kunjungan rutinnya di hari Selasa tgl 15 Desember 2020 dan pulang esok harinya. Sampai di rumah, dia merasa masih kurang enak badan. Saya mengurut dan mengerok badannya di hari Kamis.

Di hari Sabtu pagi, perasaannya masih tidak membaik. Padahal, besoknya di hari Minggu kami diundang oleh seorang teman baik untuk makan siang di rumah mereka. “Bagaimana kalau saya swab antigen?” akhirnya dia menelepon saya Sabtu sore sebab perasaannya tak membaik, padahal sudah minum obat.
“Iya hasian, sebaiknya begitu. Apapun hasilnya nanti, abang harus tegar ya. Jangan panik!” pesanku.
Lalu, menjelang magrib, dia meneleponku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Aku positif hasian….” katanya.
“Loh, kok nangis? Kan abang sudah janji akan tegar. Abang cepat jemput kami ke rumah, supaya kami swab juga.”
“Tapi nanti kalian tertular, kalo saya yang jemput. Kalian naik taxi online aja.”
“Nggak, aku gak percaya pada higienitas taxi online. Abang aja yg jemput, nanti kita atur duduknya.”Akhirnya dia menjemput kami ke rumah. Kami duduk di bangku belakang dan semua kaca mobil terbuka. Malam itu, Saya, Sere dan seorang ART di rumah menjalani swab antigen. Puji Tuhan, hasilnya negatif.

Setelah itu, dia masih mengantarkan kami ke rumah. Saya sambil berusaha menghubungi beberapa teman menanyakan ketersediaan rumah sakit rujukan covid. Hasilnya: semuanya penuh.

Lalu kami sepakat supaya dia ke RSUD bekasi mencari pertolongan dan petunjuk lebih lanjut. Sampai di rumah, saya menyiapkan pakaian dan kebutuhannya secepat mungkin. Dia juga kusuruh makan. Dia makan di teras dan tak lagi mau masuk ke rumah. Bahkan dia hanya mau membasuh wajah dan melap tubuhnya di keran air di carport rumah. Hatiku tiba-tiba sangat sedih, tapi kucoba untuk tak menangis.

Di RSUD dia langsung ke UGD untuk mendapat pertolongan pertama. Dokter memeriksanya. “Kondisi bapak cukup sehat, bapak isolasi mandiri saja. Saat ini semua kamar RS penuh,” kata dokternya. Dokternya juga memberi beberapa vitamin dan obat untuk meredakan sakit yang dia derita. Di RSUD dia kembali kebingungan, dia akan menginap dimana?
“Saya gak mau dirawat di RS hasian, saya gak kuat melihat orang² yg sakit parah disini,” katanya padaku di telepon. Karena dia gak mau dirawat di RS, malam itu kami putuskan agar dia menginap di hotel.

Semalaman itu aku tidak tidur. Mencoba menghubungi beberapa teman dan saudara untuk menanyakan bagaimana caranya supaya dia bisa di isolasi di Wisma Atlit. Besok paginya, akhirnya kami sepakat untuk menghubungi ketua RW dan kemudian dihubungkan ke kepala puskesmas. Kami membuat surat pernyataan bahwa dia tak memungkinkan isolasi mandiri di rumah karena ada bayi berusia 11 bulan. Kepala puskesmas mencari tempat isolasi di Bekasi, tapi semuanya penuh, termasuk GOR Bekasi, tak ada satu bed pun yang kosong. Akhirnya dia dirujuk untuk isolasi di Wisma Atlit Tower 8 Jakarta Utara. Tower 8 diperuntukkan untuk penderita covid dengan indikasi tanpa gejala (OTG).

Jam 11 siang, Minggu 20 Desember 2020, ambulance puskesmas dengan nakes berseragam lengkap datang menjemputnya ke rumah kami. Dia kuminta pulang ke rumah dari hotel supaya mobil diparkir di rumah kami. Aku menggendong Sere sambil melambai padanya. Kulihat dia secepatnya masuk ambulance supaya tak sedih melihat borunya Sere.

Dia resmi diisolasi di Wisma Atlit Tower 8 Pademangan sejak 20 Desember 2020. Sedangkan kami kembali swab PCR tgl 21 Desember 2020 dan hasilnya negatif. Puji Tuhan. Dia menjalani isolasi selama 10 hari, melewatkan natal dan ulang tahunnya tanggal 26 Desember sendirian di sana. Saya tau dia sangat sedih dan itulah yang perasaan terberat yang dihadapi oleh penderita covid: perasaan sendiri, tersisih dan kesepian, sebab tak bisa dijenguk. Terlebih lagi, Sere mulai buang muka saat kami Video Call. Dia hari pertama dan kedua, Sere masih ceria dan semangat saat VC dengan bapaknya. Tapi hari ketiga dan seterusnya, dia mulai buang muka, seolah mandele dan bilang:”Bapak kok gak pulang?”

Singkat cerita, tgl 30 Desember 2020 dia diijinkan pulang. Puji Tuhan, akhirnya kami dapat melewati malam tahun baru bersama. Kesehatannya sudah pulih. Gejala² ringan seperti mulut pahit, mual dan sakit kepala sudah tak ada lagi. Meski begitu, selama 10 hari di rumah dia masih menjaga prokes. Memakai masker dan menjaga jarak. Saat Sere ulang tahun pertama di tgl 11 Januari 2021, dia resmi tak lagi pakai masker.

Teman dan sahabat yang baik, kuberanikan membagi kisah ini, agar kita smakin waspada pada Covid-19 ini. Apalagi akhir² ini situasinya makin parah karena makin banyak yang tertular. RS dan tempat isolasi penuh, tak ada lagi ruang untuk pasien baru, dan ini yang membuat situasi makin parah, makin banyak yang tertular di rumah dan yang punya penyakit kronis terlambat ditangani. Menyedihkan sekali.Kepada teman² yg dengan iklas kuganggu terus untuk mencari info: Mak Sea Miranda Nickoallen Butarbutar, tante Desy Hutabarat, eda Seri Swanty Hutahaean, juga teman dan saudara yg tidak ku tag disini, kuucapkan terima kasih banyak. Sehat²lah kita dan keluarga kita semua.

O ya, untuk orang² yang mengatakan ‘lebay’ pada penderita covid, saya katakan: “Anda bukan manusia, entah Anda itu apa, iblis yang menyamar dalam balutan barang branded barangkali, dan tak ada gunanya berteman dengan orang seperti Anda.”

Semoga cerita ini bermanfaat buat kita semua. Srlamat malam dan salam sehat 🙏

Berangkat dari Nol, Tetap Nol dan Kembali ke Nol

Kesaksian : Desy Hutabarat
https://www.facebook.com/desy.hutabarat.50

Di akhir tahun 2020, saya merasakan demam. Saya kira demam biasa. Keesokannya saya putuskan ke Puskesmas untuk konsultasi dengan dokter, sekaligus menanyakan apakah saya harus di swab atau tidak. Jawab dokter saat itu, tidak usah, tes darah saja memastikan tidak ada typhus atau DBD. Karena, saya tidak ada gejala khas mengarah ke covid seperti kehilangan perasa dan penciuman. Awalnya saya didiagnosa DBD. Saya sudah curiga terpapar virus itu, tetapi dokter bilang, belum perlu di swab.

Kemudian ternyata salah satu keluarga saya, terpapar dan positif, dan saya termasuk yg contact dengan mereka salam 24 jam terakhir, sehingga sayapun memutuskan kembali ke Puskesmas, dan didata untuk swab pcr. 3 hari kemudian hasilnya keluar, dan saya pun positif terpapar Covid-19.

Awalnya, saya hanya mengalami demam, sehingga Satgas Covid-19 kelurahan tempat saya tinggal, merujuk saya ke wisma atlet. Tapi, ternyata di hari ke 5 saya mulai diserang batuk dan sesak. Saking sesaknya, saya ga kuat bicara dan berjalan normal. Saya jalan seperti keong, dan kesulitan menyapa orang atau menyahut orang lain. Sayapun akhirnya dirujuk ke RS, supaya bisa ditolong menggunakan oksigen dan foto thorax. Hari kedua di RS, saya pun di foto thorax. Hasilnya, paru paru saya kena pneumonia dan flek putih menutupi lebih dari 50%.

Saya diopname 2 minggu. Berbagai pengobatan dan injeksi saya terima selama disana. Pernah satu waktu, saya minum obat sampai 13 butir. Lengan saya keduanya membiru, bekas injeksi obat dan vitamin serta pengambilan darah untuk di tes. Selang infus sampai 3 kali pindah,

Tak pernah aku mau mengeluh selama perawatan. Tindakan apa pun mereka lakukan, aku turuti termasuk pengambilan darah arteri yg sakitnya minta ampun. Sewaktu masuk ke RS, aku kesulitan berjalan, karena gampang sesak dan batuk, saya cuma berdoa dalam hati, semoga belas kasih Tuhan selamatkan ku. Saya berada di titik nol, saya dihantam, dipermalukan dan berjuang melawan sakit. Awal saya sakit, saya tidak mau kasi tau ibu saya sama sekali. Tetapi, wajah beliau saya rekam baik baik di fikiran saya, sebagai semangat afar saya berjuang untuk sehat.

Kesendirian saya di RS, membuat saya bertemu teman dan saudara yang sama sama berjuang melawan penyakit ini. Saya ingat sahabat sahabat yg tulus dan baik, mereka jadi penyemangat saya melalui jalan sunyi dan berat kala itu.

Saya pegang janji Tuhan, saya harus kuat. Saya harus fokus pada kesembuhan saja. Saat itu, saya sadari bahwa kematian itu sangat dekat, saya nol di hadapan Tuhan, tidak ada yg bisa saya sombongkan. Hanya karena kemurahan Tuhan lah saya selamat. Kata kata yang paling dinanti selama di RS adalah: kamu bisa pulang. Dan kalimat itu pun datang, setelah 2 minggu di RS. Dengan pesan dari dokter supaya tetap ketat melakukan protokol kesehatan, konsumsi vitamin dan sebagainya supaya badannya fit kembali. Saking sakitnya yg saya rasakan sewaktu berjuang untuk sembuh, saya nazar jika sudah sehat maka saya harus bersedia menolong sesama yg membutuhkan. Sampailah pada Januari akhir kemarin, seorang kakak menghubungi saya untuk menanyakan kesediaan saya donor. Dan dengan senang hati, saya pun menunaikan nazar itu.

Saya adalah nol, kemurahan Tuhan saja yg menolong saya. Bagi teman atau saudara yg sedang berjuang untuk sembuh terutama dari Covid-19, semangat lah, sembuhlah.Kalau melihat ke belakang, rasanya saya malu sama diri saya sendiri. Harus penyakit yg sadarkan saya bahwa tak ada rancangan kecelakaan dalam Tuhan. Tuhan ijinkan aku mengalami sakit itu, untuk kemudian antibodi yg cuma cuma Tuhan berikan itu, bisa kusalurkan terhadap sesama ku yg membutuhkan.Aku sudah sembuh, sudah sehat, sudah memenuhi nazar untuk donor, kemurahan Tuhan lah yang ijinkan semua itu terjadi.

Para Survivor C19, Kisah -2

Penulis : Vincensia Naibaho
https://www.facebook.com/kutus.kutus.12935

Jika kamu kena covid, berdoalah semoga indra perasamu (lidah) tidak ikut hilang rasa. Karna kalau lidah sudah tak bisa merasa, maka semua makanan akan terasa hambar dan kamu tidak akan selera makan. Jika kamu tak bisa makan maka kamu akan drop karna tidak ada asupan. Padahal kunci dalam menghadapi virus yg sudah sempat masuk ke tubuh itu adalah harus banyak makan. Gak perlu berpantang pantang dulu. Gak usah ikuti anjuran : Gak boleh makan ini gak boleh makan itu (walau tentu lebih bagus kalau kita makan makanan sehat). Tapi kalaupun hanya selera makan nasi goreng, makan mie, martabak, bakmi, hajar aja dulu. Semakin banyak yang kita makan semakin banyak nutrisi yang bisa didapat tubuh selama sakit. Jika kalau sudah kena, lakukanlah :- Menghirup uap minimal 2 kali sehari-Minum rebusan air sirih-Minum air kelapa hijau-Kumur2 pakai betadine kumur minimal 2 kali sehari.-Latihan pernafasan biar udara kotor keluar dari paru paru.-Minum obat sesuai gejala. Kalo batuk, minum obat batuk, kalo diare minum obat diare. Kalo demam minum obat demam. Jadi jgn semua kau minum obat obat yang dishare di sosmed itu. -Jangan baca baca berita orang meninggal karna covid. Itu bikin kita ketakutan dan imun akan menurun. Baca aja berita2 lucu dan menghibur. Itu lebih bagus.Begitulah kira kira saran dari aku yang sudah sembuh dari covid.

Kesaksian Para Survivor C19, Kisah -1

Penulis : MamJag Pandiangan Manalu https://www.facebook.com/profile.php?id=1529298962

Sharing pengalaman🙏

Saya bukan orang yang suka dikasihani oleh siapapun, saya lebih suka berbagi kebahagiaan, sukacita dengan siapapun didunia ini. Tempat saya berbagi beban dan galau adalah Tuhan dan sebagai Katolik saya sangat suka berbagi cerita dengan Bunda Maria🙏🙏

Suatu Sabtu diawal Jan 2021 tetiba saya tidak bisa mencium bau apapun dan lidah tidak merasakan apa apa, semua tawar, memang sejak Rabu saya tidak merasa nyaman tidak enak badan, tidak flu tidak demam, suhu hanya 36.3-36.4 tp ga enak rasanya, dan sejak Rabu itu juga si art ku masih nongol ( belakangan dia cerita 2 hari sebelum kami balik dr kampung, dia sdh muntah muntah, ga enak badan, rasanya ga napak , sakit kepala) tp saat kami sampai dan Minggu , sampe Rabu dia masih datang kerja.
Kamis dia ga datang, dititipkan ke temannya cerita diatas, jd fix dia sakit.
Kamis saya kerjakan semua beberes dan segala macamnya walau ga enak badan. Sabtu anosmia 🤦🏼‍♂️ yg bikin sy tersadar.
Saya cerita ke teman saya dokter dan sarannya saya ikuti semua, makan , jangan PANIK ,harus makan, makan vit , tambahkan dosis dan tak perlu antivirus dll cukup vit dan makan , jaga jarak, pake masker dan usahakan selalu mood yg bagus , fokus dengan diri sendiri ga usah dengar cerita horor karena setiap manusia diciptakan berbeda, begitu pula perlawanan ke si virus berbeda.

Puji Tuhan Selasanya mulai tercium bau si ali😃😃 dan Rabu pulih 100% .
Langsung pesan BPK krn selama anosmia BpK ga ada enak enaknya😂
Oh iya saat anosmia, sy jd suka makan indomi lohh ingat itokku klo abis rosario di zoom sukak makan indomi😂 bayangin cara makannya aja abis juga itu indomi😂

Setiap hari saya beberes rumah, masker 2 lapis .
Sakitnya apa?
Ngilu di badan kyk mau haid dikali 10🥱 apalagi kalo saya sdh istirahat terasa banget, lutut kanan sampe agak memar saking saya sering urut sendiri,yang paling terasa dr pinggang ke bawah.
Sakit kepala dibagian depan, lumayan sakit
Sesak? Iya, sesak saya tidak terlalu,
Saya latihan pernafasan dengan doa Salam Maria, jika mulai terasa mau sesak saya sambut dengan Salam Maria dst🥰🥰
Bisa berapa kali tarikan nafas utk 1x doa,ttp usaha terus menerus hingga sembuh, hilang itu sesak.
Sesak ini yg paling lama perginya,
Yang lain kurleb 5-7 hari klo ga salah .

Setelah 14 hari terhitung dr gejala saya merasakan kesehatan yg pulih, tambah lagi 7 hari baru sy test dan hasilnya negatif.

Oh iya, sejak anosmia saya mandi air hangat plus minyak kayu putih, sebelum mandi dihirupkan ke hidung.
Waktu ngilu datang, sy oleskan MKK dan lumayan membuat ringan
Dan kalo saya batuk, mau tidur saya minum Komix ( itu adanya dirumah).
Selama itu juga saya menonton semua yutub lawakan Komeng,Jarwo kwat Tandika n eben , OVJ dlll yg bikin hati senang, 😀😀

Dan setiap hari sy beberes rumah bisa kelar sampai jam 12 siang,
Kadang jawab email pekerjaan, tp yg ini bikin sakit kepala kambuh, jadi ini dilaranglah, intinya yg memaksa berpikir keras stop dulu.

Apalagi ya?
Intinya, semangat dari diri sendiri, fokus untuk sehat kembali, optimis bahwa pasti sehat itu obat mujarab.
Jangan cengeng.

Pisang? 1 sisir bisa habis lohh hanya itu yg enak walopun anosmia

Ohh, selama dirumah kami tetap tidur di 1 tempat tdr biasa, dan puji Tuhan suami aman, kebetulan hampir setiap minggu dia ke salahsatu kantor pemerintah yg mengharuskan swab antigen, dan hasilnya selalu negatif🙏🙏

Anakku terpapar sama seperti saya, tp dia tidak ada ngilu dan sakit kepala. Beda kan?

Puji Tuhan🙏🙏🙏
Terimakasih Bunda Maria 🙏🙏
Kami semua pulih sehat kembali,
Sejak kemarin si uwi sdh bekerja lagi.

Jaga imun, optimis,selalu bahagia, hindari masalah selalulah tersenyum

Doaku untuk semua yg sedang dirawat, isoman, tetaplah semangat , mari menang melawan covid, berdoalah selalu supaya kuat dan selamat.

Tuhan mahakuasa menciptakan manusia berbeda, semoga sharing sy bisa menguatkan yg lain.

SalamSehatSelalu

Bagaimana cara menggunakan HP sebagai WebCam

Berbagi Ilmu.

BAGAIMANA CARANYA MENGGUNAKAN HP SEBAGAI KAMERA LAPTOP UNTUK MEETING ONLINE?

Sekarang jamannya pertemuan online. Tentu saja sebagai admin/moderator/fasilitator pertemuan harus menyiapkan peralatan pendukung supaya video dan audio terlihat dan terdengar baik. Rata-rata laptop hanya didukung oleh camera resolusi rendah sehingga kualitas video anda sedikit buram. Nah, menyiasati video buram ini, HP bisa digunakan sebagai pengganti kamera laptop.

A. PERSIAPAN

  1. Unduh Aplikasi “DroidCam” di AppStore, lalu install aplikasi tersebut di HP anda.
  2. Unduh software DroidCam Client” di laptop. Berikut adalah linknya “http://www.dev47apps.com/” Pilih DOWNLOAD WINDOWS CLIENT bagi pengguna Windows.
  3. Siapkan kabel data HP, direkomendasikan adalah kabel data original bawaan HP anda.

B. Cara Pemasangan.

  1. Install Software “DroidCam Client” ke laptop
  2. Aktifkan “Debugging USB” di HP anda. Caranya PENGATURAN–> PILIHAN PENGEMBANG–> DEBUGGING USB.
  3. Bila mode PILIHAN PENGEMBANG tidak aktif maka lebih dahulu aktifkan. Caranya sebagai berikut. PENGATURAN –> TENTANG PONSEL –> INFORMASI PERANGKAT LUNAK –> NOMOR VERSI atau Build Number ( KETUK 7 KALI DI NOMOR ITU, tanpa jeda)
  4. Sambungkan HP dan Laptop dengan kabel data
  5. Jalankan aplikasi DroidCam di HP lalu Pilih kamera yang akan digunakan. Masing-masing model HP berbeda resolusi kameranya, saran saya gunakan resolusi terbesar, bisa depan bisa belakang.
  6. Jalankan aplikasi DroidCam Client di laptop. Akan terlihat Type HP anda, contoh SM-A750GN ( untuk Samsung J7)
  7. Klik Kanan, lalu pilih START.
  8. Pilih mode USB (Connect over USB)
  9. DroidCam port : 4747
  10. Centrang VIDEO saja supaya transfer datanya hanya VIDEO sementara Audio tetap menggunakan audio laptop.
  11. Buka software meeting yang anda gunakan Google Meet, Microsoft Teams atau Zoom.
  12. Atur posisi HP anda sesuai dengan keinginan anda. Saran saya, gunakan tripod atau tongsis supaya HP berada diposisi stabil.

Selamat mencoba, kualitas video anda akan lebih baik.

Catatan menjelang akhir 2020


Dalam hitungan jam, 2020 segera berlalu, kita memasuki 2021 dengan segala kenangan yg kita bawa, ada duka ada suka. Ada khawatir ada pengharapan, semuanya berpadu menjadi satu. Tak ada yang tahu persis tentang apa yang akan terjadi di 2021 ini. Semua tertuju pada satu titik yaitu pengharapan. Pengharapanlah yang membuat kita kuat dalam melewati 2020 yang penuh derai air mata akibat pandemi Covid 19 ini. Di mana-mana pancaran kesedihan menebar. Kesedihan karena ditinggal oleh orang-orang dikasihi, kesedihan karena kehilangan pekerjaan/mata pencaharian dan kesedihan akibat tidak bisa berkumpul bersama keluarga merayakan natal dan tahun baru.


Apakah anda seorang yang selalu berpengharapan dalam hidup ini?. Apakah anda melihat semua kejadian di 2020 ini sebagai batu pijakan untuk meraih kebahagiaan di tahun-tahun mendatang atau anda seorang yang pesimis bahwa dunia ini akan begini saja?.
Sebagai hadiah akhir tahun buat sahabat-sahabat media sosial, saya tuliskan ulang syair lagu yang diciptakan oleh alm St. P Situngkir berikut ini sebagai perenungan kita melewati 2020.


MOLO HUBILANG-BILANGI
Sipata molo hubilang-bilangi ari-aringku,
Jotjot do magopo, marisuang do i
Hinorhon ni hinajais niba,
Sobinoto mamakke tikki lao sumarihon ngolu
Ditingki mangula ulaon siganup ari,,
Jotjot do lilu au Tuhan di dalan hi,
Hurimpu sonang ngolukki, binaen ni arta tanoon,
Hape marisuang do i sude
Tuhan, ngaloja be au
Tung so adong hape pasonang au di tanoon,
Tudia ma au, o Tuhanki,
Ale Tuhan ajari ma au, mamakke tikkiki sude di ngolungki,
Asa unang marisuang jala magopo
Asa unang lilu au, di dalan mi na tigor i
Tuhan, diHo ma au, diau ma Ho
Tu Ho maporus au
Ai holan Ho hangoluanki
Sai gok dihoma au
Ro di sudena ngolungki
Paombun ma rimasMu mida au
Sai sesa nasa dosangki, asa sonang ma au saleleng ni lelengna i
Hasangapon, hamuliaon ma di Ho ro di salelenglelengnai,
Saipinuji ma, pinuji ma Ho Tuhan.


2020 adalah tahun yang berat bagi kita semua. Mari kita menghitung hari-hari yang telah kita lewat. Meski terasa berat, namun ternyata kita bisa dipenghujung 2020. Ada begitu banyak kegiatan suka cita yang harus batal akibat pandemi. Tak terhitung dampak ekonomi keluarga akibat kondisi sekarang ini. Pelaku usaha, karyawan, usaha rumahan, angkutan umum, dan banyak sektor yang terpuruk selama 2020 ini.


Banyak keluarga yang melewati tahun ini dibalut rasa duka yang mendalam akibat kehilangan orang-orang yang dicintai tetapi yakinlah dibalik hujan ada pelangi yang indah. Kehilangan memang sesuatu yang sangat berat tetapi ketika memori-memori indah bersama yang kita cintai itu kita gunakan sebagai pelecut semangat di 2021 ini maka yakin lah, di balik duka ada pelangi kasih yang indah telah menanti.


Kita memulai 2021 ini masih dalam cenkeraman virus yang bahkan katanya telah bermutasi menjadi jenis baru. Vaksinasi sebagai satu-satunya cara melawan virus ini hingga jam terakhir 2020 belum terealisasi seperti janji pemerintah. Rekan netters yang budiman mari kita dukung segala upaya pemerintah dalam memerangi virus ini. Sebarkan kebaikan, kegembiraan dan kebahagiaan sebab ini juga merupakan benteng diri dari virus. Hati yang gembira adalah obat, itu benar. Gunakan media sosial sebagai penyebar semangat dan kegembiraan. Stop hoax, bully, dll.

Mari kesampingkan egoisme sebagai partisipasi kita dalam memutus atau sekedar mengurangi penyebaran virus covid 19 ini. Tetap patuhi protokol kesehatan. Kalau tidak penting sekali maka tundalah pesta mu. Jika memang hanya untuk menikah, saran saya cukup dengan seremonial agama saja. Pesta bisa dilakukan tahun-tahun mendatang bila kondisi sudah membaik. Jika harus berkumpul maka batasi jumlahnya, tetap jaga jarak dan gunakan APD. Ingat, bangsa kita dijajah selama 350tahun lebih tetapi kita melalui nya dengan baik, bahkan leluhur kita disiksa oleh kaum kolonial mereka tetap bertahan. Masa sih kita disuruh bersabar untuk tidak pesta dan berkerumun di tempat tamasya saja kita tidak mampu?. Apakah kalau kita tidak bertamasya dan tidak berpesta maka hidup kita sudah selesai?.


“Ale Tuhan ajari ma au, mamakke tikkiki sude di ngolungki,Asa unang marisuang jala magopo Asa unang lilu au, di dalan mi na tigor i”, ya, mari kita belajar menggunakan waktu yang ada suapaya tidak sia-sia.
Selamat menanti pergantian tahun.Horas

Stigma negatif ke Papatar

Beragam respon yang diberikan pada pembaca grup Kabar-Kabari Humbang Hasundutan di kolom komentar ketika seuntai kalimat berikut saya tuliskan, “Molo masa pemilukada didok nasa arga ni manuk sioto do par papatar”. Dalam Bahasa Indoesia artinya “setiap perhelatan pemilukada, masyarakat Papatar tidak lebih dari harga seekor ayam potong”. Komentar bernada kecaman lebih mendominasi. Saya hanya tersenyum ketika membaca satu persatu komentar tersebut dan ternyata lebih mengarah pada cacian kepada saya. Para pembaca gagal paham dengan apa yang saya sampaikan. Kata ke empat dari kalimat itu adalah “didok” yang artinya bahwa kalimat itu diucapkan oleh orang-orang, bukan saya. Cacian yang salah alamat.

Kalimat ini sungguh menyakitkan, melecehkan, melanggar HAM karena menyamakan nyawa manusia dengan nilai seekor ayam potong tentu saja menginjak-injak martabat masyarakat Pakkat Parlilitan Tarabintang, PAPATAR, tiga kecamatan paling barat di Kabupaten Humbang Hasundutan. Kalimat yang melecehkan ini sudah terdengar semenjak pemilu lima belas tahun lalu. Berawal dari banyaknya calon legislatif daerah yang bertarung di daerah pemilihan tiga (Dapil 3 Papatar) yang bukan putra daerah. Masih segar dalam ingatan ketika itu bahwa dari 7 (tujuh) orang legislator daerah hanya satu yang berasal dari daerah yang berpenduduk sekitar 37ribuan itu. Sebagai catatan, saat ini penduduk Papatar yang memiliki hak suara sah adalah 35.096 orang ( sumber : website pemkab HH)

Dulu, sepuluh tahun ke belakang, Papatar ini adalah lumbung suara bagi caleg-caleg baik legislator provinsi maupun pusat, lihat saja data di atas. Perebutan suara kembali terjadi setiap diadakan pemilukada. Telah terjadi tiga kali pemilihan kepala daerah namun belum pernah sekalipun putra daerah Papatar yang memiliki seperempat suara pemilih di HH ini maju menjadi calon kepala daerah maupun wakil kepala daerah. Sungguh miris.

Lalu, entah siapa yang memulai, kalimat melecehkan itu muncul. Periode pemilu 2004, suara sumbang ini sudah terdengar, menyakitkan memang. Saya tidak tahu apakah ini disebabkan oleh praktek Togu Togu ro yang marak dilaksanakan?. Nyatanya, bukan hanya masyarakat Papatar yang menerima uang di saat pemilu. Semua pemilihan ditengarai praktek money politic, bukan?.

Kenapa hanya ke Papatar disematkan kalimat nasa arga manuk sioto do parpapatar?.

Sebagai generasi, anak rantau, pemilih millenial, para mahasiswa, kaum terdidik, kaum melek politik yang berasal dari ketiga kecamatan, saatnya kita bangkit bersama-sama membumihanguskan stigma itu. Mari kita berjibaku memberikan pengertian, campaign, sosialisasi kepada seluruh masyarakat Papatar bahwa sebagai daerah terbesar di HH dan sebagai pemilik SDA terbaik, saatnya masyarakat Papatar unjuk diri. Saya melihat banyak sekali anak rantau Papatar yang mumpuni baik dari segi ekomoni maupun kemampuan berpolitik untuk kita dorong maju menjadi bupati. Bersama para perantau, masyarakat papatar membuktikan kepada daerah lain bahwa Papatar tidak bisa dibeli dengan uang.

Menurut saya, kalimat itu muncul sejalan dengan tingginya ongkos politik yang dikeluarkan oleh seorang caleg, cabup/cawabup untuk menang di Papatar ini. Info tak resmi, bahwa pada pemilukada tahun lalu saja diutuhkan 250-400ribu Togu-togu Ro per orang. Itupun belum tentu ada jaminan untuk dipilih. Semakin besar maka peluang terpilih semakin besar pula. Apakah mahalnya ongkos politik ini yang menyebabkan munculnya stigma tersebut?, bisa saja. Ada uang, ada suara, kira-kira begitu.

Peran perantau sangat diperlukan dalam memberikan sosialisai no-money-politic, tentu saja ini tidak mudah sebab sudah sangat mendarah daging istilah ‘adong do hepengna?’.

Dalam sebulan terakhir ini saya sudah dua kali ke Papatar dalam sosialisasi pemenangan kotak kosong, nyatanya masih ada masyarakat yang berani secara terang-terangan menanyakan adong do hepengna?–ada uangnya?. Itulah gambaran sederhana yang saya dengar langsung.

Tinggal 23 hari lagi, pemilihan kepala daerah di HH akan berlangsung. Rakyat HH diberikan kesempatan menerima atau menolak calon tunggal, Dosmar-Oloan sebagai bupati-wakil bupati beriode 2021-2024. Pasangan catung sudah melakukan kampanye disetiap kecamatan bahkan ke desa desa sebaliknya para pendukung pemenangan atau relawan pemenangan kotak kosong pun melakukan hal yang sama. Ada tiga elemen atau organisasi yang melakukan sosialisasi kotak kosong di pemilu kada HH ini yaitu Forum Peduli Demokrasi Humbang Hasundutan yang berkantor pusat di Jakarta, Forum Masyarakat Desa Sejahtera dan Aliansi Masyarakat Kampus.

Suhu perpolitikan HH seemakin menghangat. Survey-survey bertebaran. Salah satu daerah di Indonesia yang getol memenangkan kotak kosong adalah pemilukada Humbang Hasundutan. Kami menilai ada pencideraan demokrasi meski calon tunggal itu dilindungi oleh undang-undang. Demokrasi yang baik adalah memberikan kebebasan kepada masyarakat memilih pemimpinnya, bukan menerima ata tidak.

Getolnya tim relawan dalam memenangkan kotak kosong ini tentu saja membuat tim calon tunggal harus berjuang keras memenangkan hati rakyat. Logika sederhananya adalah calon tunggal pasti menang, nyatanya, perlawanan msyarakat bersama ketiga organisasi tersebut di atas cukup membuat tim pasangan calon tunggal kerepotan. Sosialisasi dari rumah ke rumah, pertemuan kelompok, spanduk, media sosial dan lain-lain yang dilakukan oleh tim relawan kotak kosong ini sungguh merepotkan tim calon tunggal. Papatar menjadi salah satu target utama kedua tim.

Bicara soal materi, uang, modal sosialisasi, maka tim Relawan Pemenangan Kotak Kosong tidak mengandalkan itu. Relawan hanya bermodalkan persuasif ke masyarakat. Dari awal sudah sampaikan bahwa taka ada uang di tim kotak kosong.

Apakah memang masyarakat Papatar akan memberikan suaranya hanya karena uang?, kita akan lihat tanggal 9 desember nanti.

Politik bagi saya dan dia

Saya sebenarnya tak paham politik, apalagi politik praktis. Selama ini, meski aktif di berbagai organisasi, semuanya bersifat oraganisasi holong, kerohanian, budaya-marga, literasi dan lain-lain yang jauh dari aroma politik. Saya lebih senang menulis di medsos, blog dan WAG daripada ikutan dalam kegiatan politik, meski beberapa kawan saya mengajak untuk secara resmi bergabung dengan partai politik, menjadi kader. Latar belakang keluarga pun tak ada yang bersentuhan dengan kegiatan politik, mungkin ini yang menyebabkan kami tak pintar berpolitik.

Berbeda dengan dia. Sedikit perbandingan, saya awam dengan partai politik, sementara dia kader partai.

Berapa kali gagal dalam caleg (pernah di PKB) dan kini menjadi kader partai PSI tapi saya harus menyaksikan ini kepada kawan-kawan, dia berpolitik dengan baik, hanya berpolitik gagasan ide-ide, mendengarkan masyarakat dll. Tak ada togu-togu ro alias TTR. Semua perlengkapan umum lazimnya seorang kader partai politik seperti kartu nama, kalender, kaos adalah sumbangan sukarela kawn-kawannya dan masyarakat yang mendukungnya. Semua dilakukan dengan modal kejujuran dan keyakinan.

Dari kubu pendukung petahana banyak cibiran dan cacian yang diterima. Sebagai saudara sekandung ada rasa pedih dan sedih tetapi sekaligus bangga karena konsisten menyuarakan suara rakyat. Kegagalan nya dalam pencalonan legislatif bukanlah sesuatu hal memalukan bukan?, bukan kah ada jutaan orang di negeri ini yang pernah gagal dalam pencalegan?.

Dari dulu tak pernah niat berpolitik di Humbang Hasundutan. Dua kali mangajukan diri ke masyarakat Medan dan Deliserdang untuk legislatif tingkat I. Bukan tak ada dukungan dari beberapa eleman di Humbang, tapi memang sepertinya tak ada niat untuk berpolitik di HH.

Ingat viralnya Puskesmas Pakkat yang mana ada pasien rawat inap tapi tak ada tenaga medis yang berjaga? lalu ia sampaikan keluhan ini ke DPRD? ia menjadi seorang yang kontroversi sekaligus seorang yang protagonis bagi masyarakat yang diterlantarkan. Jika anda tanya apa yang sudah diperbuatnya pada masyarakat HH, mungkin boleh ditanya ke beberapa desa di Pakkat, Onan Ganjang dll. Walau sedikit tapi gagasannya soal teknologi pertanian dan perkebunan cukup bisa diterima masyarakat yagn meski pada akhirnya terhalang tembok permodalan, penyuluhan dan bimbingan dari pemerintah daerah.

Ketika spanduk para pendukung Kotak Kosong diturunkan oleh seorang anggota DPRD yang ternyata masih satu partainya, maka dia langsung membuat laporan ke polisi. Spanduk itu milik rakyat dan tak ada yg bisa menurunkan itu dengan seenaknya. Laporan pelecehan demokrasi itu kini ada di polisi. Biarlah pihak yang berwajib menjadi juri dalam laporan ini. Jika kalian ingin menjumpainya, sekarang dia sudah berada ditengah-tengah masyarakat Humbang Hasundutan dalam memenangkan Kotak/kolom Kosong di Pemilukada Des 2020.

Itulah dia.

Tetap semangat menyuarakan kepentingan rakyat, Bro.