Sedikit tentang …


hendryLahir dari rahim seorang ibu Boru Simanullang di huta Pulogodang Kecamatan Pakkat. Among dan Inong adalah guru SD di sekolah yang berbeda. Among di SDN Banuarea ( sekitar 5 menit lagi sudah samoai ke Banua Ginjang hahahhaa ) dan Inong di SDN Panggugunan. Rumah kami di Huta Raja, persis di tenah kedua sekolah ini. Masa kecil ku yang ceria kuhabiskan di sana, desa yang sejuk di kaki Dolok Pinapan.

Banyak hal yang masih melekat dalam ingatanku. Bermain layangan, memancing, mandi di sungai, menggembalakan kerbau. Bagi kami, hari yang paling menggembirakan adalah saat natal tiba. Bersama teman sebaya mendapat tugas mencari pelepah muda pohon Aren,–Lambe, kami menyebutnya– sebagai hiasan utama dinding gereja. Anak perempuan kebagian tugas mencari sirungguk, sejenis semak yang banyak ditemui dibelukar basah. Anak-anak sekolah minggu dengan semangat, bergotong royong menyiapkan hiasan natal tersebut. Sebagian lagi, membantu parhalado menyiapkan makanan untuk acara makan bersama. Seekor pinahan besar disembelih dan dimasak, lalu menjelang sore, ketika hiasan gaba-gaba itu selesai, jamuan bersama pun dimulai.

Itu hanya secuil pengalamanku. Kisah mangarup amporik, marjobang, makkail di aek siulakulak atau manatap di Bantoan, mandi di sungai Aek Handis, Namo Sigodung dan Namo Sipegepege sepulang sekolah minggu adalah pengalamanku yang lain.

Lalu, karena panggilan pengabdian Among, kami pun pindah ke Pakkat, ibu kota kecamatan. Masa remaja hingga lulus SMA ku nikmati di sana. Banyak kenangan masa remaja, masa akil balik yang terpatri di sana. Manakko salak, berenang di Aek Temba dll. Sekolah di SMA RK Pakkat membentuk karakter ku. Sebenarnya saya menyukai eksakta tapi kenyataanya bahwa hobbiku adalah menulis dan membaca buku-buku filsapat dan kesusastraan. Berkat bimbingan belajar di SMA ini, saya berhasil masuk PTN di Politeknik Negeri Medan – dulu dikenal Poltek USU- dan akhirnya saya pun bergelut dengan bidang ke listrikan, lupakan sejenak soal filsapat dan sastra.

Saya termasuk mahasiswa yang biasa-biasa saja, baik dalam inteligensi maupun dalam pergaulan. Tak ada yang spesial. Meski sesekali mendapat nilai bagus, tentu saja untuk ukuran Politeknik yang terkenal dengan nilai-nilai dibawah dua koma lima.

Semasa kuliah saya aktif berorganisasi. 1998 di tengah pergolakan negeri ini menuju masa reformasi, kami mahasiswa lebih sering turun ke jalan daripada belajar. Bahkan ketika kerusuhan Mei 98 pecah di Medan, posisi saya sedang berada di tengah demonstrasi. Akhirnya saya pulang ke ke tempat kos karena kerusuhan antar etnis pun sudah pecah.  Saya ingat betul bagaimana hari-hari mencekam itu berlalu. Pagi-pagi berkumpul di kampus lalu bergerak ke perapatan besar Simpang Kampus USU, kadang terhadang water kanon polisi di jalan raya Dr. Mansyur. Beberapa kawan sering menyelinap di kerumunan kampus lain seperti UNIKA dan UHN yang terkenal dengan keganasan berdemonstrasi. Tiada hari tanpa demosntrasi.

Masa ini pula, bersama dengan rekan-rekan membentuk komisariat Politeknik Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dan saya didaulat menjadi sekretaris komisariat, Dedi Sipayung menjadi ketua ( adik junior di jurusan Elektronika). Saban hari berdiskusi politik. Padahal jurusan Teknik Elektro. Hobbi membaca buku-buku filsapat dan politik mulai tumbuh kembali. Saya katakan istilah ‘kembali’ karena saat SMA sudah sering baca buku sejenis di perpustakaan.

Setiap sekali dua hari nongkrong di rumah biru PKM GMKI di Ismud,-Iskandar Muda- lalu di sanalah berkenalan dengan mahasiswa lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Bahkan hingga kini saya masih berhubungan dengan kawan-kawan seangkatan maupun senior GMKI.

Kisah kasih pun ada di PKM

Kuliah di Politeknik sebenarnya asyik dan efisien sebab tak bisa kita berleha-leha menunda kuliah, cuti dll seperti fakultas lain. Poltek itu cukup tiga tahun, tamat dan cari kerja (bahasa kerenya pengangguran). Beruntung saya kuliah di Politeknik, jika tidak, mungkin saya tak akan tammat sebab kegilaan berorganisasi sedang punck-puncaknya.

Cita-cita awal merantau ke Batam sebab kata kawan saya, kesempatan bekerja di sana lebih banyak. Namun nasib menentukan bahwa saya harus merantau ke Bekasi. PT Sony Electronics melakukan perekrutan karyawan ke kampus-kampus. Salah satunya adalah kampus Politeknik USU. Dari sanalah kisah merantau di Bekasi bermula. Sebelum wisuda saya sudah lulus test diterima bekerja. Hanya 4 dari ratusan orang pelamaar. Keren ga? heheheh biasa saja kali. Semua korelasinya. Nanti saya ceritakan. Di lain hari nanti ya.

Saya menyadari bahwa campur tangan Tuhanlah yang membuatku bisa bertahan dan berkarya detik demi detik. Karunia Tuhan yang ada harus ku kembalikan pada Dia yang memberikan. Itu nazarku. Tugas sebagai seorang engineer yang daerah pekerjaanya di seluruh Indonesia termasuk Asia-Pasifik ini tak menyurutkan niat memberikan sesuatu kepada Dia. Kala itu, sebelum berkeluarga, saya juga aktif berNHKBP bahkan pernah menjadi ketua NHKBP di Perumnas 2 Bekasi. Hati saya tertambat di sana. Indah sekali. Pelayanan saya kepada kaum muda bermula dari sana. Membentuk sel-sel PA naposo/remaja perweik dan itu berjalan beberapa tahun. Kebaktian dwimingguan berjalan riuh dan penuh semangat. Keluarga-keluarga menyambut anak-anak Tuhan. Tak ada keluarga yang menolak ketika saya hubungi untuk menjadi tuan rumah. Bahkan beberapa ibu meminta secara khusus supaya kebaktian naposo/remaja diadakan di rumahnya. Jika bertemu hari minggu di gereja, beberapa ibu menanyakan kapan giliran mereka, padahal baru sebulan yang lalu. Masih ku ingat ketika kaum ibu menanyakan “makan apa kita nanti, bang? tinggal sebut saja nanti inang masakin” bah, tabo nai pikirku.

Tahun 2007 hingga 2009 kami menggagas Try Out UAN di tiga SMA dan SMK di Pakkat. Forum Intelektual Pakkat yang kami bentuk berkonstribusi mengadakan try out tersebut. Kecintaan kepada bonapasogit dan sedikit bentuk kepedulian kepada generasi muda membuat kami bersemangat mengadakan itu. Jujur, kami sangat beruntung. beberapa perantau yang kebetulan berprofesi sebagai pendidik/guru sangat mendukung kegiatan itu, bahkan materi try out pun kami dapatkan dengan mudah namun berkwalitas. Semua kami kerjakan sendiri mulai dari menyusun soal, catak lembar jawaban, koreksi jawaban, details sekali.

Setelah menikah,  secara resmi kami menjadi warga Cikarang lalu medan pengabdianpun berganti. 10 tahun lebih saya mengabdikan diri menjadi pembina remaja di gereja. Membentuk, membimbing dan membina mereka. Semangat pelayanan itu memuncah. Pertemuan pertama saya hadir sebagai pemantau. Pemantau tok. Saya tak mau main serobot saja ketika kawan-kawan penetua sudah memulainya. Ternyata, konsep mereka hanya begitu-begitu saja. Mulailah saya masuk perlahan. Lagi-lagi soal sifat saya yang pelopor. Jika segalanya sudah berjalan, maka dengan senang hati akan saya tinggalkan, tugas sudah selesai. Maju atau mundur perkumpulan yang saya bentuk tidak menjadi tanggungjawab saya lagi, masaku sudah berlalu. Itu prinsip saya.

Aktivitas sosial setelah berkeluarga pun semakin banyak. Di sela-sela tuntutan pekerjaan yang sangat padat, saya selalu membangun hubungan sosial dengan dongan sahuta, samarga, saompu bahkan kawan-kawan perantau. Jiwa organisasi yang sudah di tempa dan terbentuk di GMKI sangatlah berguna. Saya biasa berbicara dihadapan ratusan bahkan ribuan orang.

Seminggu setelah menikah saya bersama beberapa dongan tubu membentuk punguan Lumban Gaol Cikarang dimulai dengan bonataon dan deklarasi pembentukan punguan. Bahkan lucunya, beberapa bulan setelah pernikahan itu saya sudah menjadi amaniboru.  Bayangkan saja paranak datang ke rumah kami yang sempit tanpa perabotan itu. Sai na adong do. Hingga kini, saya masih sekretaris Lumban Gaol Cikarang Selatan. Di sini ada dua punguan Lumban Gaol. Saking luasnya Ciakrang ini dan banyaknya anggota maka kami bersepakat untuk membagi punguan ini menjadi dua bagian.

Satu karakter yang ku miliki adalah pelopor, penggagas. Menciptakan sesuatu dengan ide lalu menjalankanya. Saya juga memprakarsai pembentukan punguan parsahutaon di perumahan ini dan lagi-lagi saya didaulat menjadi sekjen. Enam tahun lebih kami menjalankan tugas sosial ini. Sebenarnya pemikiran ku simpel saja. Pedoman nya hanya kebutuhan. Apakah punguan/organisasi itu butuh?, kalau ya maka harus segera terbentuk.

GMKI lah yang membentuk semangat beroranisasi dan menempa diri saya sehingga bisa mengatur waktu, bahkan mengatur perasaan. Bagaimana menerima perbedaan pendapat dan bagimana menyampaikan pendapat tanpa menyakiti.

Beberapa kali saya aktif di kepanitiaan perkumpulan Lumban Gaol Sejabodetabek, bahkan 2020 saya adalah sekjen Panitia Bona taon. Sebagai rasa tanggung jawab saya kepada leluhur, saya pun mau didaulat menjadi salah satu pengurus. Jaman pandemi ini menyebabkan kegiatan kepengurusan menjadi mandek alias jalan di tempat. Sabtu depan, pengurus Raja Nabolon Lumban Gaol akan di lantik dan saya didaulat menjadi sekjennya. Entah sampai kapan kegiatan sosial ini akan berakhir. Mungkin sampai maut memisahkan raga dari badan. Hahahah.

Responses

  1. Horas. Sunggih kagum kalau ceritanya masa kecil di Lerpin karena hal seolah membawa kita ke masa muda yang sesungguhnya telah berlalu…. berlalu .
    dan tidak pernah datang kembali. Namun dimikian Dolok Pinapan nauli selalu datang dalam kenangan. Ok bro terima kasih atas cerita marjobangnya,terima kasih atas crt mangkailnya di Aek Handis (kalau saya mangkail di aek parmaduan do kawan). Sukses selalu tks and GBU. Horas dari anak ssr dolok.

  2. horas..bolehkah saya meminta alamat email? saya ingin bertanya mengenai adat secara pribadi dari email,mauliate


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: