Tulang – 1

Lelaki itu terbaring lemah. Matanya nanar memandang langit-langit kamar bercat putih itu. Sesekali ia menghela nafasnya perlahan namun berat. Ia terpihat menahan tumpahan air matanya. “Na ro do ho bere?–kamu datang bere?” tanyanya lirih hampir tak terdengar.

“Olo Tulang, hubege sian inong marsahit tulang, tor jalo hulojong tuson–aku mendengar tulang sedang sakit, segera saya kesini” ujarku seraya menggenggam lembut tangan tua yg mulai keriput itu, dingin. Di sisinya, nantulang segera bangkit dan memelukku, ada uraian airmata hingga membasahi kemejaku. Aku memeluk nantulang dengan erat. Selain inong, peremmpuan yg menjadi sosok ibu di keluarga kami adalah nantulang. Bila among marah dan hendak memukul adik-adik saya, mereka segera berlari ke rumah tulang. “Nantulang, naeng dipamate bapa hami”, biasanya among langsung surut amarahnya. Hanya menyisakan ancaman lewat kedipan matanya.

Dia lelaki tua yg terbaring, dulu seorang yg kekar dan bersahaja, yg memeiliki aura dan wibawa kepemimpinan. Keras dan displin tetapi sangat bersahabat. Tak salah bila dua kali periode memimpin desa kami Desa Rura Nauli. Aku berusaha menunjukkan wajah sebersemi mungkin pun dalam hatiku, aku ingin menangis melihat penderitaanya. Dokter Simatupang bilang gejala stroke akan segera menyerangnya bila terlalu sering darah tingginya kumat.

“Denggan do usaham, nuaeng?–apa bisnismu baik-baik saja?” Sapanya seraya berusaha untuk duduk. Aku meraih gagang tempat tdr itu dan memutarnya perlahan, sehingga ia duduk tegak. “Cukup, Tulang?” tanyaku. Ia menggangguk lemah.

“Timbo dope tensi ni tulangmu, dang boi dope mulak–tensi darah tulangmu masih tinggi, jadi belum bisa pulang–” timpal nantulangBunga menjelaskan tanpa saya tanya.

“Sebentar lagi inong datang” kataku mengindahkan pertanyaan tulang.

“Nantoari dope eda dohot amangbao sian on-baru kemarin eda dan amangbao dari sini” jawab nantulang heran.

“Masihol katanya inong ke ibotonya yg sangat dikasihi ini” kataku seraya melempar pandang ke Tulang.

“Sai mambahen menghel do ho bere” jawab nantulang.

“Hatop ma ho malum tulang, ai huboan do siinumon na tabo i–cepatlah sembuh Tulang, saya bawa minuman kesukaan Tulang” kataku. Memang saya sengaja membeli sebotol wayne merah kesukaan Tulang. Saya sering menitipkan itu ke rekan sekampung bila bertemu di Jakarta atau Bandung.

“Unang sai pamanja tulang mi–jangan manjakan tulangmu” kata nantulang.

Tulang hanya tertawa. Walau seolah terpaksa.

—-

Pos!

Suara khas Pak Pos berteriak sembari memukul pagar besi itu dengan kunci motornya. Beberapa penghuni pos mendongakkan wajah menatap pintu par rumah kos yg disain sedemikian. Rumah ini dulu adalah rumah dinas tentara belanda, oleh pemiliknya diubah menjadi tempat kos. “Bang Togar, wesel untuk mu” teriak Rizal, tergesa dia memilah beberapa pucuk surat dan sehelai kertas berwarna coklat itu diserahkan kepadaku.Wesel pos!.

Sesuatu yg mustahil. Bukankah among sudah menegaskan tidak ada lagi uang utk dikirimkan?, aku penasaran, jantungku berdegup. Mataku tdk tertuju ke nilai nominalnya tetapi kepada pengirimnya. Jahotman Marbun. Tulang amaniBunga. “Kau harus lulus bere, jgn pikirkan soal uang” itu pesannya.

Jahotman Marbun, tulangku, anak bapatua inong, tiga generasi kebelakang, seorang pekerja keras dan berpikiran maju, masih tergolong belia kala itu, beda usia 15tahun denganku. Saya ingat persis sifatnya karena masa remajanya saya sudah SD, kala itu. Ah, tulang. Engkau bagaikan oase di tengah gurun pasir luas yg kerontang, bagaikan curahan hujan di kemarau panjang. Tak terasa mataku berkaca. Kembali teringat ketika dia menyelipkan lembaran duapuluhribuan ke kantongku kala berangkat ke Bandung beberapa tahun silam. Buat makanmu di jalan, katanya seraya memelukku. Holan ho dope bere na kuliah sian hutantaon, gabe sitiruon ni angka tinodohon nang naposo ni hutaon ma ho–baru kamu mahasiswa dari kampung kita, semoga kamu bs menjadi panutan generasi muda di kampung kita ini, bisiknya.

——-

Asi roha mida tulang mi, nantulang mi– kasihan melihat nantulang dan tulangmu- kata inong ketika bersendagurau sore itu di batu besar binanga itu sembari membantunya memeras kain2 cuciannya. Inong tetap asyik dengan sekeranjang besar kain cuciannya, sesekali menghela wajah keriputnya. Mesin cuci yg saya kirimkan bulam lalu masih teronggok di dapur, masih dalam kardusnya. Haduan ma i pinakke molo dang boi be iba meret tu binanga an– nantilah saya pakai jika sudah tak mampu lagi mencuci di sungai, kilahnya menjawab pertanyaanku perihal mesin cuci yg tidak terpakai itu.

Kepulanganku sebenarnya tidak direncanakan, kebetulan ada beberapa masalah pembebasan lahan di beberapa titik tower yg akan kami bangun. Sudah sepuluh tahun saya menggeluti bisnis penyewaan dan pembangungan tower BTS. Pensiun, tepatnya resign dari perusahaan telekomunikasi dan membangun bisnis sendiri. Kenikmatan berbisnis, hingga lupa menikah. Panglatu. Istilah orang2 di lapo Parsitongaan sana setiap saya singgah. “Naro do panglima besar–panglima besar sdh datang?” Ledek amaniUttal, sebayaku yg sebentar lagi menyekolahkan anak sulungnya ke ITB menyambutku. Maksudnya panglima lajang tua. Walau tak terlihat, wajahku di 43 tahun ini masih terlihat muda. “Sudah kau siapkan tempat tinggal anak kita?”, katanya nyerocos. Bulan lalu, lewat telepon saya sdh menyanggupi permintaanya. Saya bangga dengan amaniUttal. Uttal lulus di ITB. Tahun demi tahun kampung ini menghasilkan beberapa sarjana.

Kembali ke inong.

“Inong, aku ingin menolong tulang, asal inong setuju”.

“Saya pasti setuju, amang. Tulangmu itu sangat baik kepada kita”.

“Saya khawatir inong tidak setuju”.

“Pasti setuju”.

“Sitoho do inong-betulkah, inong?”.

“Boasa hira na marhutissa ho mangurupi tulang mi?– mengapa kamu bertekateki membantu tulangmu?”

Aku terdiam, memandang lekat inong.

“Aku ingin menikahi Bunga”.

Inong menghentikan cuci. Ada raut terkejut mendengar perkataanku. Kembali ia meraih secarik kain lalu membilasnya.

“Kamu sudah pikirkan resikonya?”.

“Satu malam ini inong. Jujur, saya tidak ingin melihat tulang itu menderita. Segala kebaikan yg ditanamkan kepada keluarga kita tidak bisa dibayar dengan cara apapun,” kataku.

“Iya. Tdk ada yg bisa menandingi kebaikan keluarga tulangmu. Mulai dari kami berumahtangga, ompungmu, amongnya tulangmu yg memberikan sawah utk kami, membangun rumah dan semua yg ada sekarang ini semua atas kebaikan keluarga tulangmu itu. Inong tahu, beberapa kali tulangmu mengirim uang untukmu ketika kau sekolah di Bandung, inong tahu semua”. Aku terdiam, tak menyangka inong tahu semua yang tulang lakukan untukku.

“Jadi inong setuju kalau Bunga jadi parumaenmu?”.

“Saguru di ho do amang, hodo annon na manghilala jala mandalani rumatanggam i– tergantung kamu nak, kamu yg akan menjalaninya nanti”.

Kami saling berdiam. Apakah inong setuju dan iklas?, inong tahu betul siapa Bunga. Inong bukanlah orang lain di keluarga tulang. Setiap kekuarga tulang punya hajatan maka among dan inonglah sebagai boru menjadi parhobas.

=== cerbung ini akan berlanjut==

Sales vs Engineer

Sudah beberapa bulan ini saya kerja hanya dari rumah. Seorang sales.

Dulu, berprofesi sebagai engineer bekerja menangani mesin produksi lalu berhadapan langsung berbagai level krayawan mulai dari operator hingga GM. Saya belajar banyak mengenal karakter baik berdasarkan latar belakang pendidikan, budaya, ras hingga bangsa yang berbeda-beda. 20 tahun saya menjalani profesi itu dan berbagai pelosok tanah air saya kunjungi.Semua ada masanya.Covid mengkandaskan semuanya. Jika bukan karena Covid mungkin saya masih berprofesi sebagi engineer.

Engineer itu enak. Terutama ketika semua pekerjaan selesai pada waktunya. Tetapi gak enak jika kita dihadapkan pada persoalan pelik sebab semboyan seorang engineer sama seperti semboyan pasukan opemadam kebakaran. Pantang pulang sebelum padam…( padam benar heheheh). Nah, engineer pun begitu. Kastemer tidak mau tahu apakah pekerjaanmu akan overlap dengan pekerjaan lain yang sudah terssdedule atau apakah tiket pesawatmu akan hangus bahakan tak peduli jika kamu akan tinggal di satu daerah hingga berminggu-minggu sampai mesin mereka berproduksi secara baik.

Sebagai seorang engineer kita harus bisa mengambil sebagian dari perasaan kastemer yang kita hadapi. Jika kita berhadapan dengan orang-orang di line produksi maka kita harus berorientasi pada produksi. Dan ketika orang qualiti datang kepada kita maka qualiti menjadi isu utama. Kedua tim inilah yang paling sering kita temukan di kastemer ketika kita menjadi engineer yang meanngani mesin-mesin pabrik.

Setiap saat HP harus standby meski di rumah, dalam aktifitas sosial, ibadah, olahraga dan lain-lain. Semua perusahaan yang bergerak dibidang service menawarkan remoe service yang artinya melakukan service jarak jauh. Setidaknya lewat telepon. Bertolak belakang dengan sekarang. Saya sudah jadi sales heheheh. Untungnya saya pernah belajar sales waktu di tempat lama dan modal saya mengahdapi orang-orang selama 20 tahunlah background saya berbalik dari tukang menjadi parboniaga.

Sebenarnya produk yang saya jual sekarang pun sangat berhubungan erat dengan pengalaman saya sebagai engineer. Perkembangan teknologi farmasi saat ini sangat pesat. Dan perkembangan ini dibarengi dengan sistim keamanan produk farmasi. Tentu saja setiap negara mengeluarkan aturan yang harus dituruti oleh para produsen obat dan di negara kita, BPOM menjadi pembuat kebijakan.

Nah, dalam dunia obat-obatan teknologi traking dan tracing masih hal baru meski beberapa produsen obat yang berasal dari perusahaan global sudah mengaplikasikan ini. Setiap obat diberikan nomor seri. Berdasarkan nomor seri inilah obat tersebut bisa kita traking dan tracing. Sistim inilah jualanku sekarang.

Buat kawan-kawan yang bekerja di pabrik farmasi seandainya ada yang butuh SERIALISASI mesin boleh infokan ke saya.

Asuransi, teliti dulu baru tanda tangan

Semakin banyak saja yg merasa dikecewakan oleh produk asuransi. Kawan2, sebelum memutuskan bergabung menjadi nasabah asuransi maka pelajari dulu lebih teliti setiap produk yg ditawarkan agen. Contoh, ada agen menawarkan asuransi sambil menabung, asuransi jiwa plus hari tua, asuransi sekolah anak plus jiwa dll maka saran saya adalah:

1. Pastikan selama berapa tahun premi asuransi itu dibayarkan

2. Baca baik2 skema perhitungan uang tabungan dan premi kesehatan dalam satu paket polis itu. Misal jika sebulan anda bayar 1juta maka pastikan dari 1juta itu berapa rupiah yg dialokasikan utk tabungan dan berapa rupiah utk premi kesehatan. Biasanya adalah tahun pertama hingga 5 atau enam sangat kecil nilai tabungan kita, mungkin sekitar 50persen ke bawah, artinya jika anda masuk asuransi selama 5 tahun dengan premi 1juta maka tabungan anda bukan 60bulan kali 1juta. Hehehhehe.

3. Anda harus pastikan bahwa uang anda itu (premi) ditukarkan ke unit. Misalnya premi perbulan anda 1 juta maka hitung berapa rupiah utk tabungan. Misal 350ribu. Maka dana rekening anda bukan 350ribu tetapi harga 350ribu itu berapa unit?. Kita menabung unit, bukan rupiah. Bisa saja harga 1 unit bulan ini berbeda dengan 1 unit bulan depan. Bisa lebih mahal bs lebih murah. Jika saham perusahaan asuransi itu baik dan kondisi kesehatan finansialnya bagus maka harga unitnya mahal atau tinggi, tentu saja tabungan kita juga akan bertambah. Demikian juga sebaliknya

.4. Utk pembayaran premi berjangka misalnya membayar selama 10tahun saja maka pastikan ke agen anda bagaimana kondisi polis setelah 10tahun. Jangan diamkan uang anda di perusahaan asuransi setelah 10tahun. Premi kesehatan anda akan dipotong dari tabungan itu. Misalnya, jika premi kesehatan anda dipolis itu sebesar 400ribu maka tabungan anda akan dipotong 400ribu per bulan.Jadi bila sudah mendekati 10 tahun misalnya 9tahun11bulan maka buat keputusan, top up atau upgrade, polis baru atau berhenti sama sekali. Jangan sampai anda lalai. Bayangkan anda lalai 5 bulan, maka uang anda akan hilang 5 bulan kali besar premi asuransi kesehatan anda dalam polis itu.

Pemahaman yg baik akan menghindarkan anda dari pertengkaran, caci maki, hujatan pada perusahaan asuransi dan agen2nya. Ketika anda melihat ketidak cocokan hitungan anda dengan apa yg anda dapatkan anda tidak kaget lagi.

==Catatan ini berdasarkan pengalaman menjadi nasabah asuransi Prudential selama 10tahun.==

sumber foto : futuready.com

Covid 19 Itu Ada

Kesaksian : Henry Simanjuntak

Saya sudah rasakan – Namun Tuhan Baik, saya Menang🌹🙏

Disini saya mau berbagi pengalaman selama berhadapan dengan covid type yang memiliki gejala Demam, batuk, sesak dan badan pegal. Mungkin Kalau baca berita nya Artis kena covid, takut settingan. Mudah2 an bermanfaat buat kita semua.

Tgl 28 Jan, saya merasa Batuk, sesak, punggung pegal dan Badan panas. Namun karena saya merasa mengiykuti protokol kesehatan dengan baik.
sehingga saya pikir ini demam biasa. Karena sebelum nya saya bersama team kehujanan di lapangan. Namun saya lupa, sitress berlebih sekarang bisa memudahkan virus menyerang kita. Sorenya bos saya masih sempat bercanda:”Saya kira kamu adalah orang terkuat fisik nya di team saya”, itu benar, karena saya cukup kekar dan masih mampu lari 20K (mungkin).

Saya masih coba minum obat penurun batuk dan Demam. Minta di urut karena sanhat pegal. Namun tidak terasa turun. Sehingga kita putuskan ke RS untuk check. Dari hasil antigen sudah positif. Begitu negatif, dalam hatiku anak dan Istriku juga adek pasti kena. Tapi Lagi2, Tuhan itu sangat baik. Adek yang saya suruh mijid, Michelle yang selalu nemani papi mereka Negatif. William dan Firman yang sering candain papi nya juga negatif. Istri saya memang sudah di Vaksin yang kedua. Karena tenaga medis. Dia pun Negatif.

Kemudian di lanjutkan dgn PCR. Namun hasil PCR harus menunggu 3 hari. Setelah hasil nya keluar, baru saya percaya saya positif.

Karena demam tinggi tidak turun, batuk dan sesak semakin berat. Akhirya kita putuskan di rawat di RS. Sampai di RS oxigen dalam darah sudah turun. Pengentalan dalam darah juga terjadi. Infus, obat pun mulai masuk.
Namun ketika masuk RS, sudah harus siap hal terburuk. Karena kita sudah harus ttd jika meninggal di RS penguburan dilakukan Pihak RS. Beban sudah mulai muncul. Dan saat masuk RS, ternyata sudah banyak pasien sesak di dalam. Beban kedua muncul. Saat di rawat, tudak bisa bertemu siapapun, beban ketiga. Dan tiap hari ada pasien masuk dan ada yg lewat, beban ke empat. Saat demam dimalam hari lebih 40oC, kita sudah mulai berhalusinasi. Orang yg lama meninggal sudah mulai datang menyambut-beban kelima. Yang paling berat saat kita malas bernafas. Karena pasti batuk. Sehinga kdang2 tersentak dan Jarum infus pun lepas.
Saat di test PCR masih Tetap positif. Beban semakin berat.

Saat alami itu, harapan kita cukup kecil. Untung nya virus tdk menuebar melalui jalur komunikasi sehingga Bawa HP tidak dilarang.
Satu hal yang membuat saya mulai bangkit. Ketika keluarga dengan semangat penuh memberi dukungan. Mereka kirimkan video bahwa mereka menunggu saya dan saya Bisa.
William anak saya paling kecil menangis dengan sedih nya. Menaikkan Adrenalin saya. Ia, saya BISA!!!
Selama di RS hanya bisa bertemu dgn dokter dan Perawat dan petuhas RS. Seolah mereka di training juga meningkatkan immun tubuh. Selalu senyum, tidak marah, tidak menolak, selalu mengajak bicara. Alasan Benar saya harus menang dari virus.
Semua Keluarga, saudara, teman memberi dukungan. Rasanya itu maghnet besar menambah semangat untuk menang. Ketika rekan sekamar dinyatakan bisa pulang, Saya pun dengan semangat Lepas selang Oxigen dari hidung saya. Saya harus pulang dengan Sehat..!!!

pelajaran yg bisa di ambil dari pengalaman saya:

  1. Tetap ikuti protokol 3 M
  2. Jangan percaya dulu saat ini bahwa teman sehat. Tetap ikuti potocol. Jika tidak top urgent, jangan ketemu dgn orang lain.
  3. Tetap jaga stamina. Usahakan jangan Stress dimasa covid. Apapun ceritanya.
  4. Keluarga pemberi imun terbaik
  5. Jika merasa demam, pegal, batuk, langsung periksa ke dokter. Check antingen.
  6. Jika sudah positif covid, tetap positif thinking. Kurangi baca berita covid. Dan langsung di rawat di RS. Itu yang terbaik.
    Tidak semua orang kekuatan tubuh sama. Namun kalau sudah ditangani dokter, pasti sudah lebih aman.
  7. Kalau ada dari kita kena Covid, langsung di support. Itu kekuatan bantin terbaik untuk bertahan.
  8. Sepertinya gejalanya berbeda untuk setiap orang. Jadi jgn sepelekan.

Kadang saya sedih, masih banyak yang tidak perduli dan sepele dengan keberadaan Covid, jangan di ikuti.
Gunakan masker saat ini itu wajib, jika kita tdk mau di panggil segera!
Jangan sepele, karena virus itu disamping kita.

Banyak hal Sedih, susah dan Sulit dilalui selama di rawat di RS.
Sehingga mendorong saya berbagi pengalaman. Dengan tujuan yang belum terinfeksi jangan Sampai kena, sakit.
Cukup sudah hanya sampai di kami korban covid. Kalian tidak akan kuat. Cukup kalian ikuti prokes dgn baik. Lakukan 3M.

Kini saya sudah di nyatakan Negatif oleh RS. Terimakasih Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini bukan karena kekuatan saya🙏
Bagi teman yang sedang berjuang, berjuang lah sekuat tenaga untuk jadi pemenang.
Bagi yang belum kena, berjuang sekuat tenaga untuk tidak kena virus Ini.

Terimakasih saya yang sebesar-besar nya Kepada Team Medis yang dengan rela merawat dengan tulus meski itu harus mempertaruhkan nyawa nya.
Kepada istri dan anak2 juga adek2 ku yang merawat.
Celine dan gearbongnya yang ahli tiktok memberi semangat untuk tertawa.
Kepada seluruh keluarga dengan team creative nya. Juga orang tua dan mertua dengan semua tangisan kesedihan nya.
sahabat, teman kerja, tempat kerja, yang memberi dukungan penuh.
Dan juga semua saudaraku yang meberi doa dan dukungan yg tidak bisa saya sebut satu persatu. Sehat lah kalian semua.

Mencegah KENA COVID lebih baik daripada MENGOBATI🌹🌹🌹

Salam Sehat
🙏🙏🙏

sumber foto : detik.com

Konblok vs Banjir

Conblock atau konblok adalah sejenis bata yg terbuat dari semen. Benda ini didisain khusus untuk jalan perumahan atau lapangan, plaza, mall, pedestarian-area pejalan kaki. Sepintas, fungsinya memang untuk itu, tatapi bila kita cari diberbagai jurnal ilmiah para penata lingkungan, arsitek dan lain2, konblok digunakan supaya area resapan air tidak hilang.

Kini, perumahan2 sudah jarang yg menggunakan konblok sebagai jalan. Pengerjaanya lama, mahal, dan lain2 dibanding cor permanen dengan beton atau aspal.

Saya belum sempat mencari UU atau Regulasi pemerintah tentang ini sehingga para developer abai, kalau ada rekan nitizen yg bisa mensharingkan, monggo. Tetapi yang jelas adalah pengembang perumahan lama masih menggunakan konblok di setiap jalannya sementara pengembang sekarang menggunakan beton/cor. Setali tiga uang, karena tidak paham atau tak mau repot, masyarakat, baik lewat dana desa, keluarahan, bahkan swadaya mengganti konblok dengan beton/cor.

Jika kita hitung luas jalan perumahan maka seluas itulah area resapan airnya dengan asumsi menggunakan konblok. Nyatanya, sudah jalananya di cor, gorong2 atau selokan perumahan pun semakin sempit. Kadang tertutup. Alhasil, setiap musim penghujan tiba, kita diperhadapkan pada masalah banjir ini, seolah tak berkesudahan, tak ada solusi.

Setiap tahun pemukiman bertambah dan berbanding terbalik dengan area resapan air, semakin berkurang. Lalu diperparah dengan ulah para pengembang yg menghilangkan konblok di sepanjang jalan perumahan, lengkaplah sudah. Hujan, iklim kita salahkan, sementara hal-hal sederhana kita abaikan.

Banjir oh banjir

Tentang 14 Hari Yang Melelahkan

Banyak yg bertanya darimana awalnya saya dan istri terpapar covid?. Jujur, saya tak pernah terpikirkan utk menelusuri kebelakang tentang dari mana saya dan istri terpapar?, mengapa? Karena setiap hari jumlah yg terpapar ini semakin banyak, artinya semakin besar peluang dimanapun bisa terpapar. Pada prinsipnya saya tak ambil pusing dengan itu. Lebih baik saya konsen utk memulihkan keadaan saya dan istri. 16hari lalu saya melihat dan mendengar batuknya istri saya sudah berbeda dari biasanya, maka saya sarankan utk swap, rupanya, setali tiga uang, kantornya mengadakan swap massal karyawan. Jadilah dia Jumat dua minggu lalu swap di salah satu klinik yg direkomendasi kantornya di Cikarang baru. Dan sorenya, hasilnya menyatakan positif.Lalu, saya sendiri langsung menyiapkan mental bahwa saya juga terpapar. Jumat itu kan hari swap, hari memastikan, artinya bisa saja istri saya sudah dihari sebelumnya yg kebetulan sudah membatuk itu terpapar. Pasti saya juga terpapar dong.

Lalu saya melakukan rapid test di hari dan klinik yg sama, hasilnya non reaktif. Bagi saya itu bukan hasil test yg valid. Dua hari sebelumnya perasaan saya sudah tak enak, dan karena saya hafal betul penyakit yg saya derita maka saya menyimpulkan maag saya kambuh.Singkat cerita, atas saran tim gugus covid kelurahan dan desa saya pun diswab di puskesmas kelurahan yg pada akhirnya memang ketahuan hasilnya postif alias sudah terpapar.

Minggu pertama adalah hari yg menyakitkan. Jujurnya, saya hanya mengalami maag ku kambuh, sementar istri batuk kecil. Lalu kami pun pisah ranjang. Saya di kamar depan, dia di kamar belakang kwkwwkwkwk. Aneh ya, sama2 terpapar ngapain harus pisah ranjang ya.

Banyak sekali ciri2 terpapar covid ini, asal kita peduli pada diri sendiri maka kita bs paham bahwa kita sudah terpapar. Setiap orang berbeda. Maag yg sekian lama tak pernah kambuh kok tiba2 menyerang dengan ganas?, disitu saya curiga.

Nah, makan adalah sesuatu yg sangat mengerikan. Aroma makanan hilan. Dalam minggu pertama, indra penciuman berkurang drastis. Jangankan aroma nasi atau lauk, aroma minyak kayu putih pun memudar. Awalnya saya pikir minyak kayu putih itu masuk angin sehingga aromanya hilang hahahahha. Minyak angin masuk angin pulak, pikirku. Malam2 saya ciun kok minyak ini seperti masuk angin ya hahahhaha

Maupih

Makan pun susah. Maag pasti kumat kalau tdk makan, jadi saya paksakan saja makannya.

Covid itu pintar, dia menyerang bagian tubuh yg bermasalah. Saya melawan. Ku paksakan makan meski tak memperdulikan rasa yg hambar. Nasi plus air putih tok. Makan sesuap, minum sedikit. Asal maag ga kambuh saja.Jika badan ingin rebahan saja, maka saya paksa diri saya beraktifitas. Berkebun, mengurus kolam, menemani Maxcy bermain. Eh, Maccy tak mandi 2 minggu ga terasa bau loh hahaha.

Apotik K24 dan Ito-lae pemiliknya mensupport terus. Mereka mengirimkan obat2an, antibiotik, antivirus, obat maag, obat mual, multivitamin bahkan lae saya mendrop kelapa hijau. Kelapa hijau bagus buat membunuh bakteri2 dalam tubuh, sila googling kalau ga percaya. Kami beruntung sekali memang.

Sehari setalah hasil test istri keluar, saya informasikan ke grup WA RT bahwa kami berdua terpapar dan harus isolasi mandiri di rumah. Respon yg luar biasa dari seluruh tetangga se RT, mereka mensupport kami sehingga tak pernah seharipun kami kekurangan makanan. Mulai dari sarapan hingga makan malam, buah, vitamin, minuman ringan silih berganti dikirimkan ke rumah. Ibu2 RT menyarankan utk meletakkan satu kursi di depan rumah sehingga mereka bisa letakkan makanan itu di sana. Saban hari mereka melakukan itu selama kami isolasi. Saya ga ngerti gimana cara membalas kebaikan2 itu, bah. Asli gue bingung. Tetangga samping rumahpun sama, bergantian membawakan makanan. Bahkan sabun pun mereka kirimkan. Demikian juga rekan2 alumni yg rela berjauh2 datang mengantar berbagai macam multi vitamin.

Selama isolasi, kami hanya mengkonsumsi antibiotik, antivirus, imunboost dan multivitamin. Tidak lebih.

Kurangi membuka WA grup sebab banyak sekali berita2 yg tersebar di sana yg tidak bisa kita kontrol yg menambah beban pikiran sehingga imun kita lemah, jadi lebih baik di kurangi saja bermedia sosial, WA grup, nonton TV (walau memang ga pernah lagi), baca portal berita, dan lain2 yg menyebabkan pikiran kita jadi mumet. Saya lebih banyak menonton yutube, film barat, lawakan haji bolot, sule, standup comedy, teater cak lontong dan tontonan lain yg membuat suasana hati gembira. Setiap hari saya bermain keyboard dan bernyanyi meski suara serak.

Bagi saya, menginformasikan kondisi kita yg terpapar adalah penting. Jangan malu. Ini bukan aib. Justru dengan saya memberitahu tetangga, kawan2 dll mereka akan mendukung kita spy cpt sembuh, berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Saya kadang heran jika ada seseorang terpapar lalu dirahasiakan. Kenapa ya? Kedua, saya rajin menghubungi kawan2 penyintas covid, berbagi pengalaman dan saling menyemangati. Ada semangat baru yg timbul dalam hati ketika kawan2 penyintas yg lain bilang bahwa dia semakin sehat. Percayalah, tak ada satu penyintaspun yg melemahkan semangatmu.
Ai holan na mangan do maol mulanai, kata kawan
Tong do boi au karejo sian jabu, kata kawan lain
Gogo ho mangan, malum doi, kata yg lain lagi

.Dukungan moral dan doa kawan2 media sosial, tetangga se RT di Blok G Taman Sentosa Cikarang, amang pandita (dua keluarga) yg menyempatkan menjenguk kami meski dari jauh, rekan2 alumni, keluarga dekat, ortu, anggi&anak, lae-ito dan bere, family, sahabàt yg tdk bs saya sebutkan satupersatu menjadi sumber semangat bagi kami.

Jika kalian membaca tulisan yg mengatakan berbagai macam obat2 yg harus dikonsumsi kalau terpapar covid, menurut saya itu semua tergantung penyakit bawaannya. Jika kalian batuk, maka belilah obat batuk. Jika maag, maka siapkan obat maag dll. Jika susah bernafas, maka minyak kayu putih bagus utk melegakan, sekali lagi melegakan. Jika sesak dan muntah2 maka ke rumah sakitlah spy alat kesehatan bs membantumu. Jika terpapar, siapkan juga obat pereda rasa sakit (apa yg biasa dikonsumsi?), obat penurun panas, obat anti mual dll yg semuanya bersifat jaga2 saja. Obat mual dimakan saat mual, obat penurun panas digunakan jika demam saja, demikian obat lainnya.Saya dan istri di hari pertama malah mengkonsumsi Black Label12.

Alkohol, coy. Kerongkongan atau tenggorokan gatal langsung lega setelah menenggak alkohol 40persen itu, bahkan tidur pun nyenyak hahahaha.

Serius.

Seloki atau 3 sendok makan kami minum setiap malam. Hahahaha

Satu yg lucu, saya mengorder Oxymeter lewat online. Sudah 2 mgg nih, belum nyampe juga. Mulai dari awal terpapar hingga kini, barang itu ga ada. Gunanya alat ini adalah utk mengukur kadar oksigen dalam darah.

Bahwa yg benar adalah seperti imbauan pemerintah 3 M, itu tok. Kalau sudah terpapar, maka kembali ke personalnya lagi. Jika kalian percaya bahwa ada obat herbal dengan ramuan2 untuk covid ini, terserah kalian. Sebab banyak sekali tulisan2 di WAG, medsos tentang obat2 covid ini. Setiap orang tak sama gejalanya. Kenali gejala anda, itu penting. Saya sendiri sudah melihat bahwa hanya Imunlah yg bs melawannya. Saya minum madu, minum ramuan jahe dan kunyit, dll supaya tenggorokan saya reda. Kunyit bagus untuk meredakan asam lambung, maag. Anti oksidan dalam jahe dan madu bagus utk tubuh. Jika imun kita kuat maka virus tak berarti, maka intinya bagaimana meningkatkan imun?……

Tetaplah semangat. Jaga kesehatan selagi sehat. Konsumsi multivitamin. Jangan saling menyalahkan sesama serumah jika ada yg terpapar, gak usah penasaran darimana asalnya. Fokuslah pada pemulihan.

Covid-19 Survivor

Kesaksian : Rose Lumban Toruan
https://www.facebook.com/rose.lumbantoruan

Sejak pandemi, dia sudah beberapa kali rapid test dan swab antigen, demi berjaga-jaga, sebagai bagian dari kesadaran sosial, agar tak menjadi carrier virus yang sedang mewabah itu. Hasilnya, selalu non reaktif dan negatif.

Lalu, pertengahan Desember, dia mengeluh badan dan tulangnya pegal dan linu. Dia mengira karena masuk angin, sebab AC di kamar kami selalu dingin (agar siboru Sere tak keringatan saat tidur), sementara dia paling gak suka berselimut. Itulah sebabnya, saat terbangun atau mau ke toilet, saya selalu menyelimutinya.

Di saat dia merasa kurang enak badan, dia masih pergi ke Bandung untuk melakukan kunjungan rutinnya di hari Selasa tgl 15 Desember 2020 dan pulang esok harinya. Sampai di rumah, dia merasa masih kurang enak badan. Saya mengurut dan mengerok badannya di hari Kamis.

Di hari Sabtu pagi, perasaannya masih tidak membaik. Padahal, besoknya di hari Minggu kami diundang oleh seorang teman baik untuk makan siang di rumah mereka. “Bagaimana kalau saya swab antigen?” akhirnya dia menelepon saya Sabtu sore sebab perasaannya tak membaik, padahal sudah minum obat.
“Iya hasian, sebaiknya begitu. Apapun hasilnya nanti, abang harus tegar ya. Jangan panik!” pesanku.
Lalu, menjelang magrib, dia meneleponku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Aku positif hasian….” katanya.
“Loh, kok nangis? Kan abang sudah janji akan tegar. Abang cepat jemput kami ke rumah, supaya kami swab juga.”
“Tapi nanti kalian tertular, kalo saya yang jemput. Kalian naik taxi online aja.”
“Nggak, aku gak percaya pada higienitas taxi online. Abang aja yg jemput, nanti kita atur duduknya.”Akhirnya dia menjemput kami ke rumah. Kami duduk di bangku belakang dan semua kaca mobil terbuka. Malam itu, Saya, Sere dan seorang ART di rumah menjalani swab antigen. Puji Tuhan, hasilnya negatif.

Setelah itu, dia masih mengantarkan kami ke rumah. Saya sambil berusaha menghubungi beberapa teman menanyakan ketersediaan rumah sakit rujukan covid. Hasilnya: semuanya penuh.

Lalu kami sepakat supaya dia ke RSUD bekasi mencari pertolongan dan petunjuk lebih lanjut. Sampai di rumah, saya menyiapkan pakaian dan kebutuhannya secepat mungkin. Dia juga kusuruh makan. Dia makan di teras dan tak lagi mau masuk ke rumah. Bahkan dia hanya mau membasuh wajah dan melap tubuhnya di keran air di carport rumah. Hatiku tiba-tiba sangat sedih, tapi kucoba untuk tak menangis.

Di RSUD dia langsung ke UGD untuk mendapat pertolongan pertama. Dokter memeriksanya. “Kondisi bapak cukup sehat, bapak isolasi mandiri saja. Saat ini semua kamar RS penuh,” kata dokternya. Dokternya juga memberi beberapa vitamin dan obat untuk meredakan sakit yang dia derita. Di RSUD dia kembali kebingungan, dia akan menginap dimana?
“Saya gak mau dirawat di RS hasian, saya gak kuat melihat orang² yg sakit parah disini,” katanya padaku di telepon. Karena dia gak mau dirawat di RS, malam itu kami putuskan agar dia menginap di hotel.

Semalaman itu aku tidak tidur. Mencoba menghubungi beberapa teman dan saudara untuk menanyakan bagaimana caranya supaya dia bisa di isolasi di Wisma Atlit. Besok paginya, akhirnya kami sepakat untuk menghubungi ketua RW dan kemudian dihubungkan ke kepala puskesmas. Kami membuat surat pernyataan bahwa dia tak memungkinkan isolasi mandiri di rumah karena ada bayi berusia 11 bulan. Kepala puskesmas mencari tempat isolasi di Bekasi, tapi semuanya penuh, termasuk GOR Bekasi, tak ada satu bed pun yang kosong. Akhirnya dia dirujuk untuk isolasi di Wisma Atlit Tower 8 Jakarta Utara. Tower 8 diperuntukkan untuk penderita covid dengan indikasi tanpa gejala (OTG).

Jam 11 siang, Minggu 20 Desember 2020, ambulance puskesmas dengan nakes berseragam lengkap datang menjemputnya ke rumah kami. Dia kuminta pulang ke rumah dari hotel supaya mobil diparkir di rumah kami. Aku menggendong Sere sambil melambai padanya. Kulihat dia secepatnya masuk ambulance supaya tak sedih melihat borunya Sere.

Dia resmi diisolasi di Wisma Atlit Tower 8 Pademangan sejak 20 Desember 2020. Sedangkan kami kembali swab PCR tgl 21 Desember 2020 dan hasilnya negatif. Puji Tuhan. Dia menjalani isolasi selama 10 hari, melewatkan natal dan ulang tahunnya tanggal 26 Desember sendirian di sana. Saya tau dia sangat sedih dan itulah yang perasaan terberat yang dihadapi oleh penderita covid: perasaan sendiri, tersisih dan kesepian, sebab tak bisa dijenguk. Terlebih lagi, Sere mulai buang muka saat kami Video Call. Dia hari pertama dan kedua, Sere masih ceria dan semangat saat VC dengan bapaknya. Tapi hari ketiga dan seterusnya, dia mulai buang muka, seolah mandele dan bilang:”Bapak kok gak pulang?”

Singkat cerita, tgl 30 Desember 2020 dia diijinkan pulang. Puji Tuhan, akhirnya kami dapat melewati malam tahun baru bersama. Kesehatannya sudah pulih. Gejala² ringan seperti mulut pahit, mual dan sakit kepala sudah tak ada lagi. Meski begitu, selama 10 hari di rumah dia masih menjaga prokes. Memakai masker dan menjaga jarak. Saat Sere ulang tahun pertama di tgl 11 Januari 2021, dia resmi tak lagi pakai masker.

Teman dan sahabat yang baik, kuberanikan membagi kisah ini, agar kita smakin waspada pada Covid-19 ini. Apalagi akhir² ini situasinya makin parah karena makin banyak yang tertular. RS dan tempat isolasi penuh, tak ada lagi ruang untuk pasien baru, dan ini yang membuat situasi makin parah, makin banyak yang tertular di rumah dan yang punya penyakit kronis terlambat ditangani. Menyedihkan sekali.Kepada teman² yg dengan iklas kuganggu terus untuk mencari info: Mak Sea Miranda Nickoallen Butarbutar, tante Desy Hutabarat, eda Seri Swanty Hutahaean, juga teman dan saudara yg tidak ku tag disini, kuucapkan terima kasih banyak. Sehat²lah kita dan keluarga kita semua.

O ya, untuk orang² yang mengatakan ‘lebay’ pada penderita covid, saya katakan: “Anda bukan manusia, entah Anda itu apa, iblis yang menyamar dalam balutan barang branded barangkali, dan tak ada gunanya berteman dengan orang seperti Anda.”

Semoga cerita ini bermanfaat buat kita semua. Srlamat malam dan salam sehat 🙏

Berangkat dari Nol, Tetap Nol dan Kembali ke Nol

Kesaksian : Desy Hutabarat
https://www.facebook.com/desy.hutabarat.50

Di akhir tahun 2020, saya merasakan demam. Saya kira demam biasa. Keesokannya saya putuskan ke Puskesmas untuk konsultasi dengan dokter, sekaligus menanyakan apakah saya harus di swab atau tidak. Jawab dokter saat itu, tidak usah, tes darah saja memastikan tidak ada typhus atau DBD. Karena, saya tidak ada gejala khas mengarah ke covid seperti kehilangan perasa dan penciuman. Awalnya saya didiagnosa DBD. Saya sudah curiga terpapar virus itu, tetapi dokter bilang, belum perlu di swab.

Kemudian ternyata salah satu keluarga saya, terpapar dan positif, dan saya termasuk yg contact dengan mereka salam 24 jam terakhir, sehingga sayapun memutuskan kembali ke Puskesmas, dan didata untuk swab pcr. 3 hari kemudian hasilnya keluar, dan saya pun positif terpapar Covid-19.

Awalnya, saya hanya mengalami demam, sehingga Satgas Covid-19 kelurahan tempat saya tinggal, merujuk saya ke wisma atlet. Tapi, ternyata di hari ke 5 saya mulai diserang batuk dan sesak. Saking sesaknya, saya ga kuat bicara dan berjalan normal. Saya jalan seperti keong, dan kesulitan menyapa orang atau menyahut orang lain. Sayapun akhirnya dirujuk ke RS, supaya bisa ditolong menggunakan oksigen dan foto thorax. Hari kedua di RS, saya pun di foto thorax. Hasilnya, paru paru saya kena pneumonia dan flek putih menutupi lebih dari 50%.

Saya diopname 2 minggu. Berbagai pengobatan dan injeksi saya terima selama disana. Pernah satu waktu, saya minum obat sampai 13 butir. Lengan saya keduanya membiru, bekas injeksi obat dan vitamin serta pengambilan darah untuk di tes. Selang infus sampai 3 kali pindah,

Tak pernah aku mau mengeluh selama perawatan. Tindakan apa pun mereka lakukan, aku turuti termasuk pengambilan darah arteri yg sakitnya minta ampun. Sewaktu masuk ke RS, aku kesulitan berjalan, karena gampang sesak dan batuk, saya cuma berdoa dalam hati, semoga belas kasih Tuhan selamatkan ku. Saya berada di titik nol, saya dihantam, dipermalukan dan berjuang melawan sakit. Awal saya sakit, saya tidak mau kasi tau ibu saya sama sekali. Tetapi, wajah beliau saya rekam baik baik di fikiran saya, sebagai semangat afar saya berjuang untuk sehat.

Kesendirian saya di RS, membuat saya bertemu teman dan saudara yang sama sama berjuang melawan penyakit ini. Saya ingat sahabat sahabat yg tulus dan baik, mereka jadi penyemangat saya melalui jalan sunyi dan berat kala itu.

Saya pegang janji Tuhan, saya harus kuat. Saya harus fokus pada kesembuhan saja. Saat itu, saya sadari bahwa kematian itu sangat dekat, saya nol di hadapan Tuhan, tidak ada yg bisa saya sombongkan. Hanya karena kemurahan Tuhan lah saya selamat. Kata kata yang paling dinanti selama di RS adalah: kamu bisa pulang. Dan kalimat itu pun datang, setelah 2 minggu di RS. Dengan pesan dari dokter supaya tetap ketat melakukan protokol kesehatan, konsumsi vitamin dan sebagainya supaya badannya fit kembali. Saking sakitnya yg saya rasakan sewaktu berjuang untuk sembuh, saya nazar jika sudah sehat maka saya harus bersedia menolong sesama yg membutuhkan. Sampailah pada Januari akhir kemarin, seorang kakak menghubungi saya untuk menanyakan kesediaan saya donor. Dan dengan senang hati, saya pun menunaikan nazar itu.

Saya adalah nol, kemurahan Tuhan saja yg menolong saya. Bagi teman atau saudara yg sedang berjuang untuk sembuh terutama dari Covid-19, semangat lah, sembuhlah.Kalau melihat ke belakang, rasanya saya malu sama diri saya sendiri. Harus penyakit yg sadarkan saya bahwa tak ada rancangan kecelakaan dalam Tuhan. Tuhan ijinkan aku mengalami sakit itu, untuk kemudian antibodi yg cuma cuma Tuhan berikan itu, bisa kusalurkan terhadap sesama ku yg membutuhkan.Aku sudah sembuh, sudah sehat, sudah memenuhi nazar untuk donor, kemurahan Tuhan lah yang ijinkan semua itu terjadi.

Para Survivor C19, Kisah -2

Penulis : Vincensia Naibaho
https://www.facebook.com/kutus.kutus.12935

Jika kamu kena covid, berdoalah semoga indra perasamu (lidah) tidak ikut hilang rasa. Karna kalau lidah sudah tak bisa merasa, maka semua makanan akan terasa hambar dan kamu tidak akan selera makan. Jika kamu tak bisa makan maka kamu akan drop karna tidak ada asupan. Padahal kunci dalam menghadapi virus yg sudah sempat masuk ke tubuh itu adalah harus banyak makan. Gak perlu berpantang pantang dulu. Gak usah ikuti anjuran : Gak boleh makan ini gak boleh makan itu (walau tentu lebih bagus kalau kita makan makanan sehat). Tapi kalaupun hanya selera makan nasi goreng, makan mie, martabak, bakmi, hajar aja dulu. Semakin banyak yang kita makan semakin banyak nutrisi yang bisa didapat tubuh selama sakit. Jika kalau sudah kena, lakukanlah :- Menghirup uap minimal 2 kali sehari-Minum rebusan air sirih-Minum air kelapa hijau-Kumur2 pakai betadine kumur minimal 2 kali sehari.-Latihan pernafasan biar udara kotor keluar dari paru paru.-Minum obat sesuai gejala. Kalo batuk, minum obat batuk, kalo diare minum obat diare. Kalo demam minum obat demam. Jadi jgn semua kau minum obat obat yang dishare di sosmed itu. -Jangan baca baca berita orang meninggal karna covid. Itu bikin kita ketakutan dan imun akan menurun. Baca aja berita2 lucu dan menghibur. Itu lebih bagus.Begitulah kira kira saran dari aku yang sudah sembuh dari covid.

Kesaksian Para Survivor C19, Kisah -1

Penulis : MamJag Pandiangan Manalu https://www.facebook.com/profile.php?id=1529298962

Sharing pengalaman🙏

Saya bukan orang yang suka dikasihani oleh siapapun, saya lebih suka berbagi kebahagiaan, sukacita dengan siapapun didunia ini. Tempat saya berbagi beban dan galau adalah Tuhan dan sebagai Katolik saya sangat suka berbagi cerita dengan Bunda Maria🙏🙏

Suatu Sabtu diawal Jan 2021 tetiba saya tidak bisa mencium bau apapun dan lidah tidak merasakan apa apa, semua tawar, memang sejak Rabu saya tidak merasa nyaman tidak enak badan, tidak flu tidak demam, suhu hanya 36.3-36.4 tp ga enak rasanya, dan sejak Rabu itu juga si art ku masih nongol ( belakangan dia cerita 2 hari sebelum kami balik dr kampung, dia sdh muntah muntah, ga enak badan, rasanya ga napak , sakit kepala) tp saat kami sampai dan Minggu , sampe Rabu dia masih datang kerja.
Kamis dia ga datang, dititipkan ke temannya cerita diatas, jd fix dia sakit.
Kamis saya kerjakan semua beberes dan segala macamnya walau ga enak badan. Sabtu anosmia 🤦🏼‍♂️ yg bikin sy tersadar.
Saya cerita ke teman saya dokter dan sarannya saya ikuti semua, makan , jangan PANIK ,harus makan, makan vit , tambahkan dosis dan tak perlu antivirus dll cukup vit dan makan , jaga jarak, pake masker dan usahakan selalu mood yg bagus , fokus dengan diri sendiri ga usah dengar cerita horor karena setiap manusia diciptakan berbeda, begitu pula perlawanan ke si virus berbeda.

Puji Tuhan Selasanya mulai tercium bau si ali😃😃 dan Rabu pulih 100% .
Langsung pesan BPK krn selama anosmia BpK ga ada enak enaknya😂
Oh iya saat anosmia, sy jd suka makan indomi lohh ingat itokku klo abis rosario di zoom sukak makan indomi😂 bayangin cara makannya aja abis juga itu indomi😂

Setiap hari saya beberes rumah, masker 2 lapis .
Sakitnya apa?
Ngilu di badan kyk mau haid dikali 10🥱 apalagi kalo saya sdh istirahat terasa banget, lutut kanan sampe agak memar saking saya sering urut sendiri,yang paling terasa dr pinggang ke bawah.
Sakit kepala dibagian depan, lumayan sakit
Sesak? Iya, sesak saya tidak terlalu,
Saya latihan pernafasan dengan doa Salam Maria, jika mulai terasa mau sesak saya sambut dengan Salam Maria dst🥰🥰
Bisa berapa kali tarikan nafas utk 1x doa,ttp usaha terus menerus hingga sembuh, hilang itu sesak.
Sesak ini yg paling lama perginya,
Yang lain kurleb 5-7 hari klo ga salah .

Setelah 14 hari terhitung dr gejala saya merasakan kesehatan yg pulih, tambah lagi 7 hari baru sy test dan hasilnya negatif.

Oh iya, sejak anosmia saya mandi air hangat plus minyak kayu putih, sebelum mandi dihirupkan ke hidung.
Waktu ngilu datang, sy oleskan MKK dan lumayan membuat ringan
Dan kalo saya batuk, mau tidur saya minum Komix ( itu adanya dirumah).
Selama itu juga saya menonton semua yutub lawakan Komeng,Jarwo kwat Tandika n eben , OVJ dlll yg bikin hati senang, 😀😀

Dan setiap hari sy beberes rumah bisa kelar sampai jam 12 siang,
Kadang jawab email pekerjaan, tp yg ini bikin sakit kepala kambuh, jadi ini dilaranglah, intinya yg memaksa berpikir keras stop dulu.

Apalagi ya?
Intinya, semangat dari diri sendiri, fokus untuk sehat kembali, optimis bahwa pasti sehat itu obat mujarab.
Jangan cengeng.

Pisang? 1 sisir bisa habis lohh hanya itu yg enak walopun anosmia

Ohh, selama dirumah kami tetap tidur di 1 tempat tdr biasa, dan puji Tuhan suami aman, kebetulan hampir setiap minggu dia ke salahsatu kantor pemerintah yg mengharuskan swab antigen, dan hasilnya selalu negatif🙏🙏

Anakku terpapar sama seperti saya, tp dia tidak ada ngilu dan sakit kepala. Beda kan?

Puji Tuhan🙏🙏🙏
Terimakasih Bunda Maria 🙏🙏
Kami semua pulih sehat kembali,
Sejak kemarin si uwi sdh bekerja lagi.

Jaga imun, optimis,selalu bahagia, hindari masalah selalulah tersenyum

Doaku untuk semua yg sedang dirawat, isoman, tetaplah semangat , mari menang melawan covid, berdoalah selalu supaya kuat dan selamat.

Tuhan mahakuasa menciptakan manusia berbeda, semoga sharing sy bisa menguatkan yg lain.

SalamSehatSelalu